Jumat, 18 Juli 2014

Mengapa

Sampai saat ini, detik ini, manis cerita itu masih saja menggenangi pikiranku. Saat-saat bahagiaku bersamamu. Pertama kali kau menyapaku, pertama kali senyum itu, tawa itu. Tak pernah sejengkal pun sisi kenangan itu ku lupa.

Kau orang asing. Tak berapa lama aku tahu denganmu. Tapi kau berhasil menjajah hatiku, menguasainya dengan manis, sempurna. Membuatku merasa begitu spesial. Dan kau tahu itu, aku selalu senang menjadi yang spesial bukan?


Aku selalu ingat, kala pertama aku menatap dalam-dalam matamu. Aku menemukan cinta di sana. Lalu kau bilang "Jangan tatap aku terlalu lama, kau akan terperangkap". Kau benar. Aku terperangkap. Aku sendiri yang menginginkan perangkap itu. Sejak saat itu, hingga hari ini. Tak pernah berubah. Mata itu telah menancapkan cinta yang dalam di dasar hatiku.


Aku ingat saat indah itu. Saat aku kecup pipimu. Cium keningmu dengan penuh cinta. Juga saat lembut bibirmu beri aku kehangatan yang tak pernah bisa ku lupa. Oh dear, i miss you.


Kau pasti tak pernah lupa saat ini. Aku tahu kau sangat menyukainya. Sewaktu aku menciumi mesra tanganmu. Penuh kehangatan dan aku tulus tanpa modus. Suer! Kau juga ingat tetntunya kala kau peluk aku. Saat bahagia, atau bahkan saat di motor. Hujan lebat, petir sambar-menyambar, kau takut sekali. Kau peluk aku erat. Aku tersenyum senang, bahagia sekali. Kau tidak berhenti malah makin erat.


Semuanya, termasuk sunset itu. Sunset yang sempurna. Sunset yang mengawali cerita kita. Yang akhirnya juga terkubur bersama senja. Aku susah lupa sayang, aku susah. Mungkin tak akan pernah. Waktu terus maju dan aku tetap tertinggal jauh dibelakang.


Kini, hampir setiap saat aku mencoba mengabaikannya. Mulai melupakan jengkal demi jengkal serpihan kisah kita. Kau kira berhasil? Kau salah. Sejengkal demi sejengkal ku coba, sejengkal bahkan dua jengkal atau tiga kenangan itu kembali menghujam hatiku.


Sayang, mengapa keadaan begitu kejam atau kita yang bodoh. Mengapa waktu tega mencabut panah cinta yang telah begitu dalam tertancap dihatiku. Waktu melaju tanpa menoleh pada hatiku lagi. Tak dihiraukannya luka yang berceceran, lubang yang dibuatnya akibat panah itu.


Mengapa sayang? Mengapa hati ini masih merindukanmu?


Kesenangan ini terlalu cepat berlalu bagiku. Kepedihan ini tidak cocok untukku. Mengapa semua ini terjadi? Tak berhakkah aku? Segala pertanyaan itu sayang, yang selalu ku hadapi setiap hari sejak saat itu. 


Saat dimana kau memulai untuk tak hiraukan aku lagi. Saat dimana kau mencoba melangkah menemani waktu dan membiarkanku tertinggal bersama kenangan. Apa yang terjadi? Haruskah aku menyesali waktu? 


Mengapa tak kau maklumi sayang. Segala kebodohanku. Kau tahu betapa berartinya kau untukku. Lalu mengapa kau tinggalkan aku begitu saja. Dan berlagak tegar di depan orang-orang, meninggalkan aku sebagai pecundang sendiri. 


Sayang, aku masih bertanya, mengapa?

2 komentar:

  1. Sedikit cerita mengingatkanku kepdanya.. Hahaha.. Tulisan yang bgus.. ☺

    BalasHapus
  2. Sedikit cerita mengingatkanku kepdanya.. Hahaha.. Tulisan yang bgus.. ☺

    BalasHapus