Jumat, 22 Februari 2013

Cerpen Halte Tua


HALTE TUA
Oleh Riedho Kurnia Pamungkas

Sudah lebih setengah jam aku berteduh di halte tua ini. Malam semakin larut dan sepi namun hujan tak kunjung reda. Vespaku telah berhujan-hujan ria di pinggir halte. Seorang pengendara motor yang sama-sama berteduh di halte bersamaku telah meluncur pergi bersama tunggangannya menerobos derasnya hujan. Kini, tinggallah aku berdua dengan seorang pemuda yang berjualan kaki lima di ujung halte tua ini.
Malam semakin larut hujan tak jua reda bahkan bertambah deras. Udara malam semakin menusuk tubuhku yang hanya dibalut oleh kaus oblong berwarna putih dengan sablon bertuliskan I Love Padang dengan bawahannya celana jeans hitam dan sepatu sanghai hitam putih yang sudah lusuh kesayanganku. Aku semakin kedinginan. Kurogoh saku celanaku yang di sebelah kiri untuk mengambil hape. Ternyata layarnya telah hitam dan tidak menyala lagi. “Ah, kenapa lowbat sih”. Lalu kurogoh saku celanaku yang di sebelah kanan berharap masih ada rokok yang tersisa. “Duh, aku sial lagi, rokok habis. O iya tadi kan rokokku yang tinggal sebatang telah kuhisap sewaktu di parkiran kampus”. Aku hanya menemukan uang dua ribu rupiah di saku belakang. Aku memutuskan untuk membeli sebatang rokok ke Uda penjual kaki lima di halte. Aku langsung menyalakan rokokku dengan tangan yang mulai gemetar akibat dinginnya udara.
“Dari mana diak?” Uda itu bertanya padaku.
“Awak dari kampus Da”, jawabku.
“Mau pulang ya? Tinggal dimana diak?”
 “Awak tinggal di Pasa Usang Da”.
“Oh yang dekat orang tabrakan maut angkot versus travel tu?”.
“Ha, persis sekali Da.”
“Gimanasih kronologi tabrakan tu Diak?”
“Ngeri Da. Mobil travel dengan angkot itu saling baradu kambing. Awak kan ikut mengevakuasi korban. Jika diingat-ingat lagi, awak jadi ngeri sendiri Da. Korban yang meninggalpun banyak.”
Perbincangan kami semakin asyik. Aku menambah rokok sebatang lagi. Kini, tak ada lagi uang yang tersisa. Hujan belum mengisyaratkan reda. Jalanan semakin lengang. Malam semakin suram. Tiba-tiba saja perasaanku menjadi tidak enak. Bulu kudukku tiba,tiba berdiri.
“Tambah sepi saja ya Da. Hujan tidak juga berhenti. Mana ini Halte suram banget Da.”
“Iya Diak. Halte ini udah cukup tua. Uda saja sudah 10 tahun berjualan di sini.”
“Uda nggak ngeri kalau malam-malam begini sendiri di halte ini?”
“Udah biasa Diak. Dulu waktu awal-awal kematian seorang gadis di sini yang bunuh diri. Uda juga ngeri. Tapi sekarang sudah biasa.”
“bunuh diri?” Aku semakin merinding mendengar yang dikatakan Uda barusan. “Jangan-jangan hantu cewek itu ada di sekitar sini. Aduh bagaimana ini?” Aku semakin gusar. Karena biasanya orang yang bunuh diri itu arwahnya penasaran. Tetapi aku tetap menampakkan wajah santai kepada Uda.
Kulihat jam tanganku yang sedikit berembun terkena bias air hujan jarum pendeknya menunjuk angka 10 dan jarum panjangnya menunjuk angka 1. Ternyata sudah jam 10 lewat 5 menit dan berarti sudah satu setengah jam lebih aku setia menunggu air mata langit ini berhenti. Hari semakin larut dan malam semakin mencekam. Suasana halte semakin suram. Mungkin ini karena Uda Sabar bilang tempat ini angker. Aku menjadi penasaran dengan cerita apa yang ada di balik keangkeran yang dibilang Uda Sabar.
Uda lanjut menceritakan tentang cewek yang katanya bunuh diri itu. “Tujuh tahun yang lalu, ada seorang gadis yang tinggal di daerah ini. Dia seorang Mahasiswi yang cantik, rambutnya lurus panjang, kulitnya putih, dansenyumnya manis. Namanya Intan. Dia sering menanti bus kota di halte ini. Orangnya ramah, santun dan periang. Setiap pagi, sesaat sebelum naik bus dia selalu membeli tisu di kedai Uda.”
 “Nah, tibalah suatu malam yang terkutuk. Malam itu Intan yang baru pulang kuliah sekitar pukul 8 tiba di halte ini. Seperti biasa dia tidak lupa untuk melempar senyum manisnya ke arah saya. Walau dia tersenyum, tetapi senyumnya kali ini tampak berat. Seperti ada suatu masalah yang sedang dipikulnya. Saya menyapa dan sedikit berbincang dengannya. Tak lama di halte ini dia langsung pamit pulang kepada saya.”
“Ohh, terus Da?” Tanyaku kembali dengan tampang serius sembari membuang puntung rokokku ke lantai halte.
“Di Jalan pulang, tepatnya di gang itu.”
“Gang mana Da?”
“Gang yang itu, di sebelah rumah biru itu”. Kata Uda menunjuk ke arah rumah tingkat dua bercat biru yang tidak jauh dari halte.
“Ohh, terus-terus?”
“Kontrakan saya kan berada di ujung Gang itu. Jadi saya harus lewat gang itu setiap hari. Malam itu saya pulang seperti biasa, tak lama setelah Intan yang tinggal tak jauh dari kontrakan saya. Sekitar setengah jam setelah Intan, Uda pulang. Sambil menghisap sebatang rokok saya susuri gang yang agak kelam karena pencahayaan kurang dan lengang itu sendiri. Di sebelah kiri Gang ini terdapat sepetak tanah yang dipenuhi semak-semak. Kata orang sih itu tanah sengketa. Uda masuk ke sana dengan maksud hati buang air kecil. Tetapi setibanya Uda di sana. Uda terperanjat dan menjadi mematung beberapa saat. Tak Uda sangka, Uda temui sosok tubuh gadis sedang bergelantungan dengan seutas tali dan posisi lidah menjulur keluar di atas pohon jambu tua di semak itu. Tas bukunya berserakan di tanah. Pakaiannya juga berantakan seperti habis diperkosa. Yang menambah sesak nafas Uda, mayat itu adalah Intan.”
Aku pun terkejut mendengar cerita Uda tadi. Aku bertanya-tanya dalam hati, mengapa orang secantik dan seramah itu dan sepertinya hidupnya tanpa masalah, Intan kok bisa bunuh diri. Kini otakku pula yang dipusingkan oleh pertanyaan ini.
“Kok bisa gitu ya Da?” Tanyaku.
“Entahlah Diak. Banyak spekulasi tentang hal itu. Ada yang bilang karena depresi putus cinta, masalah keluarga. Tapi tak ada yang menguatkan dan meyakinkan Uda. Uda yakin Intan telah dibunuh oleh orang yang kurang ajar.”
“Lalu apa hubungannya dengan halte ini menjadi suram Da?”
“Hmm, soal itu. Mungkin karena Intan sering ke sini jadi tempat ini jadi kebawa angker deh. Hehe.”
Wah gila ni si Uda. Jantung saya udah dag dig dug der, dia masih sempat ketawa. Hujan udah sedikit reda. Aku mohon undur diri pamit pulang dan berterimakasih kepada Uda karena sudah mau menemani aku menunggu hujan reda.
“Da, awak pulang dulu ya. Udah teduh ni.” Sambil mengengkol vespa saya dan melekatkan helem ke kepala.
“Ya, Diak. Hati-hati.” Jawab Uda.
Sebelum pergi melaju pulang. Saya melihat kearah Uda sejenak. Namun saya dapati Uda tadi tidak sendiri. Uda Sabar ditemani oleh Gadis berbaju putih dengan rambut panjang di halte tua itu.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar