CPNS
Oleh
Riedho Kurnia Pamungkas
Banyak
orang bilang kalau sekarang masuk kerja itu susah. Untuk memasuki suatu
perusahaan atau departemen di pemerintahan, kita harus punya orang dalam.
Nepotisme. Ya, begitulah kata-kata orang yang ku dengar.
Aku
baru saja menyelesaikan studi S1 di salah satu Universitas Nesgeri favorit di
kotaku dengan jurusan Bahasa Inggris, prodi kependidikan. Tentu saja sasarannya
adalah guru.
Sudah
lama sekali pemerintah tidak membuka lowongan pekerjaan untuk pegawai negeri
sipil (PNS). Moratorium istilahnya. Aku sempat pusing dengan lowongan kerja
ini. Sehari setelah bersuka cita, eh tidak sampai sehari, malamnya setelah
siangnya aku diwisuda, aku langsung dihantui mimpi seramnya menjadi
pengangguran.
Bergulat
dan bergelut lah otak dan hatiku. Mereka berkecamuk. Aku tidak bisa tidur
memikirkan akan kerja dimana setelah ini. Aku tidak ingin lagi menjadi beban
Ayah dan Ibu setelah tamat ini. Terbesit pula pirikiranku bahwa pengangguran
ini merupakan sebuah fase sebelum bekerja.
***
Pagi-pagi
sekali aku bangun, bahkan adzan pun belum berkumandang. Aku duduk di sofa dan
menyalakan tivi. Siaran pagi memang tidak ada yang menarik. Aku lebih memilih menonton
siaran berita.
Ditemani
segelas teh hangat, aku bermenung di depan televisi. Sedang asik-asik
bermenung, sepintas aku melihat ada tulisan penerimaan CPNS. Ya iu tulisan
berita yang berjalan-jalan di bawah televisi. Aku hanya sempat membaca ujungnya
saja. Lalu ku tunggu hingga tulisan itu muncul lagi. Pemerintah membuka penerimaan CPNS untuk tahun 2013.
Aku
berlonjak kegirangan mendengar kabar itu. Sampai-sampai Ayah dan Ibuku terjaga
dibuatnya.
”Kenapa
waang Zul? Hari masih pagi, janganlah meribut” Gerutu Ayahku.
”Hehe. Iya Yah.” Jawabku sambil nyengir.
”Hehe. Iya Yah.” Jawabku sambil nyengir.
Sengaja aku tak memberi
tahu Ayah langsung. Aku menunggu hingga kabarnya jelas. Aku tak mau membuat
orangtuaku tergarok.
Setelah
mendengar kabar demikian aku langsung bergegas ke kamar untuk berselancar di
dunia maya mencari informasi. Setelah lulus aku memang membuka internet hanya
untuk melihat info lowongan kerja saja. Berbeda sekali dengan zaman kuliah
dulu, aku online hanya untuk fesbukan atau twiteran.
***
Mana
dia? Mana dia? Situsnya mana? Aku panik sendiri. Nah, ketemu. Aku berseru
senang.
Banyak
sekali kota yang membuka penerimaan CPNS kali ini. Mungkin karena ada
moratorium selama 5 tahun itu. Ah, sungguh beruntung aku, baru lulus langsung
ada penerimaan CPNS. Semoga saja aku bisa lulus. Aamiin.
Telah
aku lihat-lihat. Nah, ini dia Provinsi Sumatera Barat. Ada banyak daerah
tercantum di sana. Pertama, aku lihat daerah kampungku. Pariaman. Apah?
Pariaman hanya membutuhkan dua orang saja untuk guru Bahasa Inggris.
Aku
tidak putus asa, ku baca satu per satu kota dan kabupaten itu. aku memang
sengaja tidak melihat ke daerah luar Sumatera Barat karena kasihan kepada Ayah
dan Ibu yang tinggal sendirian jika aku merantau. Aku anaknya yang bungsu.
Abangku telah terbang pula berlayar menjadi ABK sebuah kapal pesiar. Jadi tak
tegalah aku melihatnya.
Payakumbuh
ada 3 orang, Pesisir Selatan ada 1 orang, Padang ada 5 orang, Bukittinggi ada 2
orang, Dharmasraya ada 4 orang. Aduh kenapa sedikit-sedikit sekali ini. Padahal
kan sudah dimoratorium selama 5 tahun. Bayangin aja posisi yang diisi tak lebih
dari bilangan lima. Sedangkan selama 5 tahun itu tentu telah banyak pula yang
diwisuda.
Di
kampusku saja contohnya. Sekali wisuda untuk jurusanku saja bisa mencapai 300
orang. Dalam satu tahun ada tiga kali periode wisuda yaitu Maret, Juli dan
September. Nah, 300 dikalikan tiga sudah 900 orang pula. Lalu 900 orang itu
dikalikan 5 tahun. 4500 orang. Itu baru kampusku saja. Universitas yang
mencetak sarjana Pendidikan Bahasa Inggris ini masih banyak lagi. Ya walaupun
swasta tetapi di negara kita swasta dan negeri sama saja. Sama-sama berpeluang
lolos. Berbeda sekali dengan daerah luar yang mengagungkan Perguruan Tinggi
Negeri. Di luar, seleksi pekerjaan seperti ini dipilih yang dari PTN dahulu. Jika
yang dari PTN memang tidak ada yang cocok, barulah diambil dari PTS.
Tunggu
dulu, tunggu dulu! Ada juga ternyata daerah yang menerima banyak untuk
jurusanku ini. Mentawai. Daerah kepulauan ini menerima 15 orang untuk guru
Bahasa Inggris. Tapi aku tak tahu harus gembira atau malah sedih. Di satu sisi
aku ingin cepat dapat kerja, di sisi yang lain aku kasihan kepada orang tua yag
bakalan tinggal sendiri.
***
”Yah,
Bu. Tahun ini CPNS buka. Zul berencana ikut.”
”Ya, ikutlah. Rancak tu. Ibu dengan Ayah sangat mendukung.” Jawab Ibu.
”Hmm. Bu, rencananya Zul mau melamar di daerah Mentawai Bu.”
”Mentawai? Itu jauh mah Nak. Menyebrangi laut. Ayah dengan Ibu sudah tua. Apa tidak ada yang lebih dekat?” Timpal Ayah.
”Ada sih Yah. Tapi di Mentawai menerima 15 orang untuk jurusan Zul. Sedangkan daerah lain hanya 5, 2, 3,4 bahakan ada yang hanya minta satu.”
”Hmm. Terserah Zul sajo. Zul kan sudah dewasa, tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Ayah yakin anak ayah Zul Kurniawan bijak dalam memilih dan akan sukses kelak. Aamiin” kata Ayah seraya menepuk pundak Zul.
”Ya, ikutlah. Rancak tu. Ibu dengan Ayah sangat mendukung.” Jawab Ibu.
”Hmm. Bu, rencananya Zul mau melamar di daerah Mentawai Bu.”
”Mentawai? Itu jauh mah Nak. Menyebrangi laut. Ayah dengan Ibu sudah tua. Apa tidak ada yang lebih dekat?” Timpal Ayah.
”Ada sih Yah. Tapi di Mentawai menerima 15 orang untuk jurusan Zul. Sedangkan daerah lain hanya 5, 2, 3,4 bahakan ada yang hanya minta satu.”
”Hmm. Terserah Zul sajo. Zul kan sudah dewasa, tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Ayah yakin anak ayah Zul Kurniawan bijak dalam memilih dan akan sukses kelak. Aamiin” kata Ayah seraya menepuk pundak Zul.
Ibu
ikut tersenyum mendengar kata-kata Ayah. Walau aku lihat dari sorot matanya
yang sayu bahwa sesungguhnya Ibu ingin agar aku tetap melamar di daerah
dekat-dekat kampung kami saja.
Aku
paham sekali perasaan orangtuaku. Mereka ingin aku sukses tetapi tidak mau
jauh-jauh dari anaknya. Cukup abangku sajalah yang pergi merantau. Begitulah
harapan mereka.
Aku
duduk termangu. Otak dan hatiku bertempur kembali, berkecamuk memikirkan daerah
mana yang akan aku lamar untuk tes CPNS. Aku ingat, aku masih punya tempat
untuk mengadu. Allah SWT. Baiklah aku akan sholat Istqarah untuk meminta
petunjuk yang terbaik menurut Allah.
***
Hatiku
pagi ini cukup tenang setelah semalam aku sholat tahajud dan istiqarah. Aku
telah mendapat isyrata di dalam hati. Aku telah menentukan pilihan daerah mana
yang akan aku pilih untuk ku lamar.
Aku
memilih Ibu kota Provinsi, Padang. Ya memang terlalu mengerikan memilih kota Padang
untuk dijadikan pilihan. Bagaimana tidak? Bukan rahasia umum lagi kalau
mendaftar di ibu kota itu banyak rintangannya. Persangan juga ketat. Nepotisme
juga menjadi mimpi buruk bagi pelamar pekerjaan di kota besar selayak Padang.
Walau sebenarnya kota kecil juga ada yang melakukan paktik haram ini. Namun aku
ingat pesan sebuah novel yang pernah aku baca Man jadda wa jadda.
Dengan
berucap nama Allah, aku layangkan e-mail surat lamaran ini. Dengan perasaan
harap-harap cemas aku akhirnya mendapat surat balasan dari Pemko Padang. Aku
lulus administrasi. Aku mendapatkan nomor peserta 7089 dan Minggu depan
langsung dengan lokasites di SMA 7 Padang.
***
Setelah
meminta restu dari Ayah dan Ibu, aku melangkahkan kaki pergi tes. Dengan Sepeda
motor matik kesayanganku, pagi-pagi sekali sekitar jam 5 pagi aku meluncur dari
Pariaman ke Padang. Aku takut terlambat. Seperti kata Bapak Mantan Wapres Lebih cepat lebih baik.
Benar
saja aku merupakan peserta pertama yang tiba dilokasi ujian. Aku duduk tenang
menunggu ujian dimulai. Sengaja aku tidak membaca soal-soal Tes CPNS lagi pagi
ini karena memang kebiasaanku jika membaca lagi pagi sebelum ujian akan hilang
semua yang aku pelajari hari-hari sebelumnya termakan grogi. Jadi aku diam saja
sembari berdoa di dalam hati.
Sudah
jam 8 teng. Ujian dimulai. Semoga aku lulus.
***
Hari
masih menunjukkan pukul 10 lewat seperempat aku sudah menyelesaikan ujianku. Sudah
lebih dari tiga kali aku mengoreksi tapi waktu uian belum juga berakhir. Aku juga
malas untuk keluar pertama. Sok hebat. Jadilah aku permisi ke belakang sebentar
untuk buang air kecil.
Setiba
di WC, alamak! Aku mendengar percakapan salah seorang peserta melalui telpon
selularnya. Dia asyik bercakap-cakap tentang uang dan kelulusan.
Sontak
aku terkejut. Apa mungkin dia ada orang dalam seperti yag telah diisu-isukan
orang sebelumnya? Nepotisme nepotisme, uang uang. Aku tak mau memikirkannya
lama-lama. Aku langsung kembali ke ruangan kelas ujian dan mengumpulkan
lembaran kertas ujian.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar