Rabu, 16 Oktober 2013

Cerpen: CPNS

CPNS
Oleh Riedho Kurnia Pamungkas

Banyak orang bilang kalau sekarang masuk kerja itu susah. Untuk memasuki suatu perusahaan atau departemen di pemerintahan, kita harus punya orang dalam. Nepotisme. Ya, begitulah kata-kata orang yang ku dengar.
Aku baru saja menyelesaikan studi S1 di salah satu Universitas Nesgeri favorit di kotaku dengan jurusan Bahasa Inggris, prodi kependidikan. Tentu saja sasarannya adalah guru.
Sudah lama sekali pemerintah tidak membuka lowongan pekerjaan untuk pegawai negeri sipil (PNS). Moratorium istilahnya. Aku sempat pusing dengan lowongan kerja ini. Sehari setelah bersuka cita, eh tidak sampai sehari, malamnya setelah siangnya aku diwisuda, aku langsung dihantui mimpi seramnya menjadi pengangguran.
Bergulat dan bergelut lah otak dan hatiku. Mereka berkecamuk. Aku tidak bisa tidur memikirkan akan kerja dimana setelah ini. Aku tidak ingin lagi menjadi beban Ayah dan Ibu setelah tamat ini. Terbesit pula pirikiranku bahwa pengangguran ini merupakan sebuah fase sebelum bekerja.
***
Pagi-pagi sekali aku bangun, bahkan adzan pun belum berkumandang. Aku duduk di sofa dan menyalakan tivi. Siaran pagi memang tidak ada yang menarik. Aku lebih memilih menonton siaran berita.
Ditemani segelas teh hangat, aku bermenung di depan televisi. Sedang asik-asik bermenung, sepintas aku melihat ada tulisan penerimaan CPNS. Ya iu tulisan berita yang berjalan-jalan di bawah televisi. Aku hanya sempat membaca ujungnya saja. Lalu ku tunggu hingga tulisan itu muncul lagi. Pemerintah membuka penerimaan CPNS untuk tahun 2013.
Aku berlonjak kegirangan mendengar kabar itu. Sampai-sampai Ayah dan Ibuku terjaga dibuatnya.
”Kenapa waang Zul? Hari masih pagi, janganlah meribut” Gerutu Ayahku.
”Hehe. Iya Yah.” Jawabku sambil nyengir.
Sengaja aku tak memberi tahu Ayah langsung. Aku menunggu hingga kabarnya jelas. Aku tak mau membuat orangtuaku tergarok.
Setelah mendengar kabar demikian aku langsung bergegas ke kamar untuk berselancar di dunia maya mencari informasi. Setelah lulus aku memang membuka internet hanya untuk melihat info lowongan kerja saja. Berbeda sekali dengan zaman kuliah dulu, aku online hanya untuk fesbukan atau twiteran.
***
Mana dia? Mana dia? Situsnya mana? Aku panik sendiri. Nah, ketemu. Aku berseru senang.
Banyak sekali kota yang membuka penerimaan CPNS kali ini. Mungkin karena ada moratorium selama 5 tahun itu. Ah, sungguh beruntung aku, baru lulus langsung ada penerimaan CPNS. Semoga saja aku bisa lulus. Aamiin.
Telah aku lihat-lihat. Nah, ini dia Provinsi Sumatera Barat. Ada banyak daerah tercantum di sana. Pertama, aku lihat daerah kampungku. Pariaman. Apah? Pariaman hanya membutuhkan dua orang saja untuk guru Bahasa Inggris.
Aku tidak putus asa, ku baca satu per satu kota dan kabupaten itu. aku memang sengaja tidak melihat ke daerah luar Sumatera Barat karena kasihan kepada Ayah dan Ibu yang tinggal sendirian jika aku merantau. Aku anaknya yang bungsu. Abangku telah terbang pula berlayar menjadi ABK sebuah kapal pesiar. Jadi tak tegalah aku melihatnya.
Payakumbuh ada 3 orang, Pesisir Selatan ada 1 orang, Padang ada 5 orang, Bukittinggi ada 2 orang, Dharmasraya ada 4 orang. Aduh kenapa sedikit-sedikit sekali ini. Padahal kan sudah dimoratorium selama 5 tahun. Bayangin aja posisi yang diisi tak lebih dari bilangan lima. Sedangkan selama 5 tahun itu tentu telah banyak pula yang diwisuda.
Di kampusku saja contohnya. Sekali wisuda untuk jurusanku saja bisa mencapai 300 orang. Dalam satu tahun ada tiga kali periode wisuda yaitu Maret, Juli dan September. Nah, 300 dikalikan tiga sudah 900 orang pula. Lalu 900 orang itu dikalikan 5 tahun. 4500 orang. Itu baru kampusku saja. Universitas yang mencetak sarjana Pendidikan Bahasa Inggris ini masih banyak lagi. Ya walaupun swasta tetapi di negara kita swasta dan negeri sama saja. Sama-sama berpeluang lolos. Berbeda sekali dengan daerah luar yang mengagungkan Perguruan Tinggi Negeri. Di luar, seleksi pekerjaan seperti ini dipilih yang dari PTN dahulu. Jika yang dari PTN memang tidak ada yang cocok, barulah diambil dari PTS.
Tunggu dulu, tunggu dulu! Ada juga ternyata daerah yang menerima banyak untuk jurusanku ini. Mentawai. Daerah kepulauan ini menerima 15 orang untuk guru Bahasa Inggris. Tapi aku tak tahu harus gembira atau malah sedih. Di satu sisi aku ingin cepat dapat kerja, di sisi yang lain aku kasihan kepada orang tua yag bakalan tinggal sendiri.
***
”Yah, Bu. Tahun ini CPNS buka. Zul berencana ikut.”
”Ya, ikutlah. Rancak tu. Ibu dengan Ayah sangat mendukung.” Jawab Ibu.
”Hmm. Bu, rencananya Zul mau melamar di daerah Mentawai Bu.”
”Mentawai? Itu jauh mah Nak. Menyebrangi laut. Ayah dengan Ibu sudah tua. Apa tidak ada yang lebih dekat?” Timpal Ayah.
”Ada sih Yah. Tapi di Mentawai menerima 15 orang untuk jurusan Zul. Sedangkan daerah lain hanya 5, 2, 3,4 bahakan ada yang hanya minta satu.”
”Hmm. Terserah Zul sajo. Zul kan sudah dewasa, tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Ayah yakin anak ayah Zul Kurniawan bijak dalam memilih dan akan sukses kelak. Aamiin” kata Ayah seraya menepuk pundak Zul.
Ibu ikut tersenyum mendengar kata-kata Ayah. Walau aku lihat dari sorot matanya yang sayu bahwa sesungguhnya Ibu ingin agar aku tetap melamar di daerah dekat-dekat kampung kami saja.
Aku paham sekali perasaan orangtuaku. Mereka ingin aku sukses tetapi tidak mau jauh-jauh dari anaknya. Cukup abangku sajalah yang pergi merantau. Begitulah harapan mereka.
Aku duduk termangu. Otak dan hatiku bertempur kembali, berkecamuk memikirkan daerah mana yang akan aku lamar untuk tes CPNS. Aku ingat, aku masih punya tempat untuk mengadu. Allah SWT. Baiklah aku akan sholat Istqarah untuk meminta petunjuk yang terbaik menurut Allah.
***
Hatiku pagi ini cukup tenang setelah semalam aku sholat tahajud dan istiqarah. Aku telah mendapat isyrata di dalam hati. Aku telah menentukan pilihan daerah mana yang akan aku pilih untuk ku lamar.
Aku memilih Ibu kota Provinsi, Padang. Ya memang terlalu mengerikan memilih kota Padang untuk dijadikan pilihan. Bagaimana tidak? Bukan rahasia umum lagi kalau mendaftar di ibu kota itu banyak rintangannya. Persangan juga ketat. Nepotisme juga menjadi mimpi buruk bagi pelamar pekerjaan di kota besar selayak Padang. Walau sebenarnya kota kecil juga ada yang melakukan paktik haram ini. Namun aku ingat pesan sebuah novel yang pernah aku baca Man jadda wa jadda.
Dengan berucap nama Allah, aku layangkan e-mail surat lamaran ini. Dengan perasaan harap-harap cemas aku akhirnya mendapat surat balasan dari Pemko Padang. Aku lulus administrasi. Aku mendapatkan nomor peserta 7089 dan Minggu depan langsung dengan lokasites di SMA 7 Padang.
***
Setelah meminta restu dari Ayah dan Ibu, aku melangkahkan kaki pergi tes. Dengan Sepeda motor matik kesayanganku, pagi-pagi sekali sekitar jam 5 pagi aku meluncur dari Pariaman ke Padang. Aku takut terlambat. Seperti kata Bapak Mantan Wapres Lebih cepat lebih baik.
Benar saja aku merupakan peserta pertama yang tiba dilokasi ujian. Aku duduk tenang menunggu ujian dimulai. Sengaja aku tidak membaca soal-soal Tes CPNS lagi pagi ini karena memang kebiasaanku jika membaca lagi pagi sebelum ujian akan hilang semua yang aku pelajari hari-hari sebelumnya termakan grogi. Jadi aku diam saja sembari berdoa di dalam hati.
Sudah jam 8 teng. Ujian dimulai. Semoga aku lulus.
***
Hari masih menunjukkan pukul 10 lewat seperempat aku sudah menyelesaikan ujianku. Sudah lebih dari tiga kali aku mengoreksi tapi waktu uian belum juga berakhir. Aku juga malas untuk keluar pertama. Sok hebat. Jadilah aku permisi ke belakang sebentar untuk buang air kecil.
Setiba di WC, alamak! Aku mendengar percakapan salah seorang peserta melalui telpon selularnya. Dia asyik bercakap-cakap tentang uang dan kelulusan.
Sontak aku terkejut. Apa mungkin dia ada orang dalam seperti yag telah diisu-isukan orang sebelumnya? Nepotisme nepotisme, uang uang. Aku tak mau memikirkannya lama-lama. Aku langsung kembali ke ruangan kelas ujian dan mengumpulkan lembaran kertas ujian.

***

Sabtu, 24 Agustus 2013

Baliho

Harian Singgalang Minggu, 25 Agustus 2013

Sebetulnya hal sperti ini sudah lumrah terjadi di negaraku. Sekali lima tahun kami pasti mengadakan pemilu untuk memilih anggota legislatif dan eksekutif.
Meski sudah banyak fakta membuktikan bahwa caleg-caleg yang gagal banyak yang berujung rumah sakit jiwa karena kehabisan harta. Namun, penggemar profesi ini tetap saja meningkat.
Untuk menuju pemilu biasanya ada masa kampanye. Baliho, poster-poster, stiker dan segala macam bertebaran ditempel dimana-mana.
Pemilu di negaraku ini sebenarnya masih sekitar satu tahun lagi tapi kampanye sudah dimulai jauh- jauh hari. Baliho sebesar iklan rokok bahkan lebih terpampang nyata di jalanan. Pohon-pohon rindang juga tak luput dari poster-poster caleg untuk digerogoti batangnya. Stiker-stiker disebar dimana-mana. Bahkan di kaca kamar mandiku juga tertempel stiker seorang wanita muda dari partai yang katanya mewakili generasi muda, tersenyum seakan mentertawaiku yang sedang sabunan di kamar mandi. Entah siapa yang menempel, aku tak tahu.
Juga ada yang membuat kalender. Kalender ini juga ada dirumahku. Tanggal-tanggal pada kalendernya dibuat kecil. Mungkin hanya seperlima saja dari halaman kalender. Sedangkan foto beliau dengan kumis meramang memenuhi halaman kalender itu. Terpajang tepat  di ruang tamuku. Berlatarkan warna mencolok. Sehingga lebih menarik perhatian dibandingkan foto closeup-ku ala cover boy majalah-majalah.
Aku sebenarnya tidak peduli siapa yang mau duduk menjadi legislatif, eksekutif, yudikatif dan tif-tif lainnya. Toh, kehidupanku akan tetap seperti ini juga. Namun sebagai warga negara yang baik dan insyaallah masuk syurga, aku harus menunaikan kewajiban untuk memilih walaupun hak ku sering terabaikan. Aku memutuskan akan mencoblos salah satu dari beliau-beliau yang telah rela berkorban segala-gala demi masa depannya yang tentu cerah setelah duduk nanti.
***
Aku memang bukan seorang pegawai yang bergaji atau lebih tepatnya belum. Aku seorang pendatang baru didunia perpengangguran. Bisa dibilang masih kelas bulu dalam dunia tinju WBA.
Aku baru lulus kuliah dari universitas negeri di kotaku setahun yang lalu dengan IPK yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Lebih tepatnya pas-pasan.
Memang sudah nasibku mungkin menjadi orang pas-pasan. IPK pas-pasan, ekonomi keluarga pas-pasan, tampang pun pas-pasan, akibatnya aku masih jomlo dari lahir sampai sekarang. Nasib-nasib.
Hari ini aku berencana akan pergi interview di salah satu perusahaan swasta. Beberapa hari yang lalu aku mendapatkan e-mail bahwa aku lolos seleksi dan akan diwawancara pagi ini. Ini entah sudah perusahaan ke berapa yang aku kirimi lamaran pekerjaan. Tapi syukurlah aku dapat panggilan.
Zaman sekarang mencari pekerjaan memang susah. Bagiku yang berlabel Amd atau sarjana muda teknik mesin juga susah. Padahal untuk lulus dari jurusan ini sangat susah. Setelah lulus, aku juga dihadapi dengan kesusahan lainnya. Aku harus bersaing dari ratusanribu sarjana muda teknik mesin dari seluruh penjuru negaraku karena memang bukan kampusku saja yang mencetak sarjana muda teknik mesin ini. Beruntunglah aku, hari ini aku mendapat panggilan oleh perusahaan.
Aku selalu bangun pagi, hari ini pun begitu. Aku dengan senyum sumringah karena baru saja mimpi basah, langsung menuju kamar mandi. Aku menggosok gigi, sambil sesekali memandangi wajah wanita yang berada pada stiker yang tertempel di kaca kamar mandiku. Rambutnya tergerai panjang, bibirnya merah, wajahnya putih mulus, cantik juga. Membuat aku berfantasi. Ah, ada-ada saja.
Selesai mandi aku langsung menuju kamar untuk memakai pakaian yang rapi karena akan interview. Aku lihat jam dinding yang juga ada gambar caleg dari Partai Ungu. Sudah jam 07.00 WIB. Wah bisa telat nih. Gara-gara kelamaan di kamar mandi jadi gini deh.
Aku harus bergegas satu jam lagi interviewnya akan dimulai. Tanpa sisiran dan tanpa pakai deodoran aku langsung memakai sepatu tapi aku tidak lupa minum susu.
Aku juga tidak lupa pamit dengan Papa-Mama walau hanya dengan sorakan dari luar. Aku juga tidak lupa minta restu kepada bapak caleg yang ada di ruang tamu. Aku menatap sekilas kumis meramang bapak yang ada pada kalender itu, penuh harap.
Tanpa manasin motor lebih dulu, aku langsung menggeber motorku menuju jalan raya.
***
Jalanan masih cukup lengang dan aku masih punya waktu sekitar 45 menit lagi. Sambil bersiul-siul di jalanan, aku melihat-lihat pemandangan di sekitar. Tidak ada yang spesial dan indah. Hanya poster-poster dan baliho-baliho yang setia tersenyum menatapku. Entah mereka mengejek motorku yang butut atau mereka mencimees. Entahlah ku rasa sama saja.
Kuperhatikan gambar-gambar mereka satu-persatu. Ternyata lucu juga. Ada yang ekspresi terkejut, senyum terpaksa, senyum cimees, sok seksi, dan banyak lagi.
Baru ku sadari pula ternyata dari pohon dekat rumahku sampai dijalan ini ditempeli oleh poster yang sama, oleh satu orang saja. Dengan rambut putih dan senyuman khas bahagia tampaknya.
Mungkin itu strategi politik. Bagus juga idenya. Dari pada memasang satu baliho sebesar iklan rokok, lebih baik memasang poster kecil di pohon-pohon juga semak-semak tetapi banyak.
***
Sepuluh menit berlalu, aku sampai di perempatan jalan. Aku hendak mengambil jalan lurus. Di salah satu sudut jalan, terpampang baliho besar. Itu baliho wanita yang ada pada stiker yang mejeng di kamar mandiku. Kali ini tampak jelas semuanya. Memang cantik dan seksi.
Lampu hijau dan aku melaju kembali. Gara-gara baliho tadi aku jadi berfantasi lagi tentang wanita itu. Andai saja dia itu pacarku. Pasti sangat menyenangkan. Apa lagi kalau lagi berduaan.
Lamunanku buyar, setelah di ujung pertigaan jalan aku dihadang baliho bapak dengan kumis meramang. Aku terperanjat, kaget. Tanpa sadar aku menabrak sepeda motor yang berada di depanku.
Aku perhatikan baik-baik, pakaiannya. Sepatu boot khas, celana warna coklat dan rompi hijau menyala. Tanpa berpikir panjang kali lebar sama dengan luas, otakku menterjemahkan itu polisi lalu lintas.
Wah, gawat. Polisi itu memandangiku garang. Aku ketakutan, lalu menggeber motor menembus lampu merah juga menempuh jalan perboden.
Pikiranku kalut. Aku salib kiri-kanan dan sewaktu aku menoleh ke belakang untuk melihat Pak Polisi, motorku yang melaju kencang menabrak pohon beringin yang ada di sisi kanan jalan.
Aku terkangkang terhimpit sepeda motorku. Penglihatanku terasa gelap. Nanar ku tatap sebuah poster di pohon itu bergambarkan bapak caleg yang selalu ada di pohon-pohon sepanjang jalan. Wajahnya masih saja tersenyum sumringah melihatku menderita. Padahal tidak habis mimpi basah.
****

Resensi Sunset Bersama Rosie

Judul               : Sunset Bersama Rosie
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Mahaka Publishing
Cetakan           : Ketiga, Februari 2012
Tebal               : iv + 426 Halaman

Mawar di Tegarnya Karang

Bom yang meledak di salah satu kafe di kawasan Djimbaran Bali membuat Rosie dan anak-anaknya merasa terpukul. Kematian Nathan membuatnya depresi. Tegar sahabat lama Rosie dengan sigap datang ke Djimbaran.
Tegar sadar betul kedatangannya di Gili Trawangan akan menguak kisah lamanya bersama Rosie. Karena rasa kepeduliaanya terhadap keluarga Rosie dan Nathan, Tegar meninggalkan segala urusannya di Jakarta termasuk calon tunangannya Sekar. Tegar memilih untuk membantu Rosie mengurusi anak-anak yang telah menganggapnya sebagai seorang Paman yang hebat, Paman yang keren.
Setelah Rosie sembuh dari depresi, Tegar tak lantas pergi meninggalkan Rosie dan anak-anaknya. Kebersamaan selama dua tahun belakangan membangkitkan benih-benih cinta yang telah lama terkubur.
Tegar sadar betul, dia telah mempunyai janji kehidupan bersama Sekar di Jakarta. Oleh karena itu dia berniat balik ke Jakarta menemui Sekar lalu menikah. Walau hatinya tersayat karena harus pisah dengan anak-anak. Walau anak-anak benci akan kepergin Pamannya. Walau Rosie telah kembali mempunyai rasa cinta kepadanya. Janji tetaplah janji dan tak kan bisa mawar tumbuh di tegarnya karang. Tegar tetap pada pendiriannya dan pergi ke Jakarta unutk menunaikan janjinya yang tertunda.
Novel berjudul “Sunset Bersama Rosie” kaya Tere Liye ini sangat menarik di tiap halamannya. Sosok Tegar benar-benar memukau. Sosok Tegar yang penyayang kepada anak-anak, tulus dalam mencinta, sabar, tidak pendendam ini sangat menginspirasi pembaca untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Tegar yang telah merasa tersakiti dan terkhianati tetap menyayangi anak-anak Rosie dan Nathan seperti anaknya sendiri. Tegar memang setegar batu karang. Walau hatinya hancur akibat pernikahan Rosie dan Nathan, Tegar tetap melangkah ke depan dan menenggelamkan diri dalam kegiatan positif yaitu prestasi kerja yang terus menanjak.

Novel ini sungguh banyak mengandung hikmah di dalamnya. Novel ini mengajarkan bahwa kita harus berani membuat kesempatan untuk diri kita sendiri. Novel ini juga menunjukkan bahwa kita harus berani membuat keputusan dalam hidup. Tampak saat Tegar memilih antara balik mencintai Rosie atau menepati janji kehidupannya terhadap Sekar yang telah tertunda dua tahun lebih.  

Rabu, 14 Agustus 2013

Pigura Ruang Keluarga

ku pandang sebuah pigura di ruang keluarga
tergantung pada dindingnya
debu selimuti kacanya
ku ambil, ku seka, pelan dengan tangan
ku pandang satu per satu wajah mereka
tak terasa tik tik perdetik
bulir air mata timpa kaca

Lubuk Alung, 14 Agustus 2013

Selasa, 13 Agustus 2013

Pelangi Malam

Entah ngigau atau ku sinting
ku lihat pelangi malam ini

hujan yang turun deras menghantam
kuyup aku dalam pekat malam

tatapan dalam mata yang seakan berkata itu
bikin aku semakin terpaku

dingin malam yang menyelinap
pecah saat bersamamu

detik, menit, jam
berlalu tak beri tahu aku yang terlarut indahnya pelangi
pelangi yang hangati aku malam ini

Singgalang, Minggu, 28 April 2013

Geretan Merah Jambu


Geretan merah jambu
sulut api panggang batang kretekku

geretan merah jambu
obati aku saat rindu memburu

geretan merah jambu
ingatkan aku senyum gadisku

geretan merah jambu
temani saat ku butuh
gadis hitam manisku yang kini
ku tinggal jauh

Buat Ai (Singgalang Minggu, 28 April 2013)

Sabtu, 06 April 2013

Cerpen Sepeda


SEPEDA
Oleh Riedho Kurnia Pamungkas


Koran Harian Singgalang Minggu, 07 April 2013
Setiap sore, Adi dan anaknya Iqbal selalu pergi mencari rumput untuk pakan sapi Pak Dullah yang digembalainya. Sore itu Adi memilih untuk menyabit rumput di sekitar lapangan bola desa sebelah. Adi mulai mengasah sabitnya dan siap beraksi, sementara itu Iqbal duduk di bawah pohon pinus beralaskan karung untuk penyimpan rumput sembari membaca buku.
Adi dengan sigap memangkas rumput-rumput. Sabitnya seperti kucing kelaparan yang memakan dengan rakus lauk dihadapannya. Adi berhenti sejenak untuk memadatkan karungnya dengan rumput-rumput. Adi memanggil Iqbal yang dari tadi duduk bermenung di bawah pohon pinus untuk membawakan karung yang didudukinya. Sudah berkali-kali Adi memanggil Iqbal tetapi Iqbal tetap tidak menyahut.
Diperhatikan olehnya anaknya itu. Ternyata Iqbal sedang asyik memperhatikan anak-anak yang sedang bermain sepeda di seberang lapangan.
”Kamu juga mau sepeda?”
”Iya, Yah. Teman-teman semuanya udah punya sepeda. Cuma Iqbal yang belum.”
”InsyaAllah ayah janji nanti kalau ada duit, secepatnya kamu ayah belikan sepeda.”
”Benar, Yah?” Dengan penuh harap Iqbal menatap Ayahnya.
”Iya.” Seraya mengusap-usap rambut anaknya. ”Sekarang, bawa sini karung itu! Ayah mau menyabit lagi.”
Sang surya telah berangsur membenamkan dirinya di ujung laut. Diiringi adzan magrib yang berkumandang, Adi dan Iqbal bergegas pulang agar tidak keburu habis waktu magribnya.
***
”Dik, tadi Uda berjanji kepada si Iqbal untuk membelikan sepeda.”
”Sepeda? Uang dari mana Da? Uang pinjaman dari Pak Dullah kemarin sudah dipakai untuk membayar uang sekolah Iqbal. Terus uang mana lagi? Apa Uda mau minjam uang lagi? Utang kita sudah banyak Da.”
”Tenang Dik, tenanglah! Uda mengerti. Tapi Uda kasihan lihat si Iqbal. Teman-teman seusianya pada udah punya sepeda semuanya, kasihan Dik. Dia kan anak kita satu-satunya.”
”Iya uda sayang, aku juga kasihan. Dia kan juga anak kandungku. Tapi masalahnya, kita tidak punya uang. Untuk makan saja susah. Uda malah janjikan anak itu yang tidak-tidak.”
”Huft... tenang Dik. Uda akan carikan uang untuk sepeda Iqbal, untuk makan, dan kebutuhan kita yang lainnya. Tenanglah Dik! Uda akan bekerja lebih keras lagi.”
”Terserah Uda lah. Aku mau tidur dulu.”
Adi berpikir semalaman. Memikirkan mau cari uang di mana. Matanya tak terlelapkan. Walau matanya terpicing tetapi hatinya bertanggang. Pikirannya melayang-layang hingga adzan subuh pun berkumandang.
***
Pagi itu hujan turun. Iqbal telah bersiap pergi ke sekolah. Setelah berpamitan kepada kedua orangtuanya Iqbal berangkat ke sekolah berlari menerobos hujan. Sekolahnya yang berjarak 2 km dari rumah, cukup untuk membuat kuyup seragam sekolahnya.
”Lihat itu, Dik. Anak kita semangatnya bersekolah sangat tinggi.”
”Iya, Uda, aku tahu itu,” jawabnya singkat.
”Itulah sebabnya aku ingin membelikannya sepeda, agar dia lebih giat lagi belajar.”
Istri Adi tak menanggapi omongan Adi. Dia terus melanjutkan membereskan tempat tidur. ”Sebenarnya aku juga ingin Iqbal dapat sepeda baru. Anak-anak tetanggaku juga sudah pada punya sepeda. Aku tahu perasaannya. Aku ini Ibunya. Tapi aku sadar bahwa sepeda itu tidak murah harganya.” Dia mencoba menahan air matanya. Namun tak tertahankan. Dia terkenang saat awal meminta restu kepada orang tuanya. Orang tuanya kurang setuju dengan keputusannya  menikah dengan Adi yang masa depannya tidak jelas menurut orang tuanya. ”Aku tidak boleh menangis. Menikah dan hidup bersama dengan Adi adalah pilihanku. Aku tidak boleh menyesalinya.” Bergegas diusapnya air matanya dengan selimut yang di genggamnya.
Adi pamit kepada istrinya untuk mencari rupiah. Tampak olehnya mata istrinya itu merah. Dia tahu istrinya usai menangis. Tetapi Adi tak menanyakannya. Ia tahu sebab istrinya menangis.
”Hari ini balai. Aku harus bergegas ke pasar.” Adi pergi menuju pasar untuk mengail rupiah yang telah ditakdirkan untuknya. Adi seorang pekerja keras, walau memang hanya bekerja serabutan. Kadang jadi kuli panggul, membantu menjual ikan di pasar, jadi buruh tani, kadang juga ngojek kalau ada yang mau meminjamkan motor. Bagi Adi yang hanya tamatan SMP memang susah mencari pekerjaan yang bagus zaman sekarang ini. Sarjana saja banyak yang menganggur apa lagi tamatan SMP.
Hari balai begini memang cukup menguntungkan bagi Adi. Penghasilannya membantu Pak Dullah berjualan ikan di pasar cukup untuk makan keluarganya selama dua hari ke depan.
Pak Dullah memang sangat baik kepada Adi dan keluarganya. Selain memberikan pekerjaan kepada Adi untuk menggembalakan sapi dan membantunya berjualan ikan di pasar, Pak Dullah juga sering memberikan pinjaman uang kepada Adi, walaupun belum ada satu rupiah pun uangnya dikembalikan Adi.
”Ini, Di, untuk kamu.” Pak Dullah menyodorkan uang seratus ribu kepada Adi.
”Loh, Pak, ini berlebih bukan, Pak?”
”Sudah ambil saja! Hari ini kamu sudah banyak sekali membantu saya.”
”Terima kasih, Pak.” Adi tersenyum sumringah. Biasanya Adi hanya dapat lima puluh ribu saja tetapi hari ini dia mendapatkan lebih.
Seratus ribu rupiah berhasil didapatnya hari ini, usai membantu Pak Dullah berjualan ikan. ”Alhamdulillah, ini bisa kusimpan separo untuk membeli sepeda Iqbal.” Siang itu setelah sholat dzuhur di mesjid dekat pasar, Adi melangkah pulang. Diperjalanan pulang Adi singgah di sebuah toko sepeda untuk melihat-lihat.
”Ini sepeda fixie Pak. Harganya satu juta lima ratus ribu rupiah saja. Kalau yang itu sepeda BMX, Pak. Anak laki-laki pada suka sepeda jenis itu Pak. Harganya Cuma delapan ratus ribu.”
Adi tercengang mendengar harga sepeda yang selangit. ”butuh nabung setahun mungkin aku baru bisa dapat sepeda itu.” Adi merasa masygul. Raut wajah iba tampak pada air mukanya.
”Harga sepeda baru memang cukup mahal, Pak. Kalau yang harganya agak menenggang, mungkin Bapak bisa lihat toko sebelah. Di sebelah ada menjual sepeda bekas,” kata pelayan toko, yang sepertinya mengerti bahwa Adi tak punya cukup uang.
Adi pun mendatangi toko sepeda bekas itu. Harganya memang relatif murah tetapi masih cukup mahal bagi Adi. Dua ratus ribu harga yang dipatok toko itu untuk sepeda BMX yang sudah dicat baru karena karatan itu. Namun uangnya masih tidak cukup untuk itu. Selain itu, Adi juga ingin anaknya itu memakai sepeda yang baru bukan sepeda seken.
Adi melanjutkan perjalanan ke rumah dengan langkah gontai dan kepala tertunduk.  Di perjalanan Adi melihat sebuah sepeda BMX berwarna merah bata persis seperti yang dilihatnya di toko tadi terparkir di depan sebuah rumah yang cukup mewah. Itu rumah Pak Rudi pegawai BUMN yang dikenal orang kaya pelit. Terbesit dibenak Adi untuk melarikan sepeda itu. Kawasan sekitar sedang lengang, rumah itu pun sedang sepi. ”Ah, orang kaya seperti Pak Rudi sepeda satu ini pasti tidak seberapa.” Gelap mata, Adi pun terbujuk rayu setan melarikan sepeda itu. Adi mengayuh kebut sepeda itu ke rumahnya.
Istrinya yang sedang menyapu halaman rumahnya yang sempit tercengang melihat Adi dengan sebuah sepeda baru. Iqbal bersorak riang dari dalam rumah. Adi yang dengan nafas terengah-engah dari tadi mengayuh kebut sepeda menebar senyum sumringah kepada anak dan istrinya.
”Iqbal,  ini ayah bawakan sepeda untuk kamu, Nak.”
”Wah bagus sekali Yah. Ayah beli di mana?”
”Ahh... kamu mau tahu saja. Sudah kamu pergi sana main sepeda! Ayah mau mandi dulu.”
Iqbal mengusap-usap sepeda barunya dan menaiki sepedanya dengan riang walau belum mahir betul bermain sepeda. Ibunya masuk ke rumah menyusul Ayahnya dan meninggalkan Iqbal yang asyik dengan sepedanya.
”Da, Uang dari mana beli sepeda? Uda minjam uang lagi?”
”Tidak kok.”
”Terus dari mana?” Istrinya menanya dengan curiga.
”Ah, tidak usah kamu pikirkan itu, Dik. Lebih baik kamu belanja ke pasar. Itu ambil uang belanja di atas meja. Aku mau mndi dulu, gerah.” Adi terus masuk ke kamar mandi.
Iqbal dengan sepeda barunya melenggang pergi ke lapangan untuk pamer kepada teman-temannya. Di lapangan ditemuinya anak-anak sedang ramai bermain sepeda. Dengan perasaan senang Iqbal masuk ke kerumunan anak-anak itu. Anak-anak itu ada yang tercengang dan ada yang takjub dengan sepeda baru Iqbal yangterlihat mahal itu.
”Wah, bagus sepeda barumu, Bal. Nyolong di mana? Hahaha.” Ledek salah seorang anak.
”Enak saja nyolong. Ini sepeda baru dibelikan Ayahku.”
”Ah, aku nggak percaya. Ayah kamu kan miskin, mana punya uang Dia beli sepeda mahal seperti ini.” Sahut anak lainnya.
”Ini Ayahku yang beli.” Tegas Iqbal.
Dari kejauhan tampak Iwan anak Pak Rudi yang terkenal kaya itu. Iwan berjalan menuju kerumunan anak-anak itu. Iwan melirik ke arah sepeda yang ditunggangi Iqbal.
”Aku kayak kenal sama sepeda ini.” Ujar Iwan sembari mengitari sepeda yang ditunggangi Iqbal.
”Ini sepeda baru yang dibelikan Ayahku tadi siang.” Sahut Iqbal kesal karena dari tadi orang mempertanyakan sepedanya.
”Kok mirip banget ya sama sepedaku yang tadi siang hilang?” Iwan mengecek sepeda itu dengan seksama. ”Nah, ini dia. Ini tanda sepedaku. Ada inisial namaku pada bagian bawah sadel sepeda. ’IC’ itu kepanjangannnya Iwan Caniago. Ayo ngaku sekarang! Kamu pasti yang mencuri sepedaku tadi.”
”Jangan sembarangan kamu! Ini sepedaku,” tantang Iqbal.
Iqbal yang tidak menerima tuduhan Iwan, mengayuh sepedanya dengan kencang menjauh dari anak-anak itu. Iwan dan anak-anak lainnya tidak membiarkan Iqbal pergi begitu saja. Mereka terus mengejar Iqbal.
Iqbal yang sebenarnya belum mahir betul bermain sepeda terus melaju kencang hingga pada sebuah simpang empat. Sebuah sepeda motor dari arah kanan melaju kencang menabrak Iqbal yang juga tengah melaju kencang. Iqbal terpelanting jauh kepojokan jalan. Kepalanya terbentur batu besar hingga bocor. Darah becucuran dari kepalanya. Jalanan sepi. Pengendara sepeda motor yang menabraknya melarikan diri karena takut dimintai pertanggungjawaban. Anak-anak yang sedari tadi mengejar Iqbal pun kabur.
***
 
Riedho Kurnia Pamungkas
Mahasiswa Pendidikan Bahas dan Sastra Indonesia
Universitas Negeri Padang

Jumat, 22 Februari 2013

Cerpen Halte Tua


HALTE TUA
Oleh Riedho Kurnia Pamungkas

Sudah lebih setengah jam aku berteduh di halte tua ini. Malam semakin larut dan sepi namun hujan tak kunjung reda. Vespaku telah berhujan-hujan ria di pinggir halte. Seorang pengendara motor yang sama-sama berteduh di halte bersamaku telah meluncur pergi bersama tunggangannya menerobos derasnya hujan. Kini, tinggallah aku berdua dengan seorang pemuda yang berjualan kaki lima di ujung halte tua ini.
Malam semakin larut hujan tak jua reda bahkan bertambah deras. Udara malam semakin menusuk tubuhku yang hanya dibalut oleh kaus oblong berwarna putih dengan sablon bertuliskan I Love Padang dengan bawahannya celana jeans hitam dan sepatu sanghai hitam putih yang sudah lusuh kesayanganku. Aku semakin kedinginan. Kurogoh saku celanaku yang di sebelah kiri untuk mengambil hape. Ternyata layarnya telah hitam dan tidak menyala lagi. “Ah, kenapa lowbat sih”. Lalu kurogoh saku celanaku yang di sebelah kanan berharap masih ada rokok yang tersisa. “Duh, aku sial lagi, rokok habis. O iya tadi kan rokokku yang tinggal sebatang telah kuhisap sewaktu di parkiran kampus”. Aku hanya menemukan uang dua ribu rupiah di saku belakang. Aku memutuskan untuk membeli sebatang rokok ke Uda penjual kaki lima di halte. Aku langsung menyalakan rokokku dengan tangan yang mulai gemetar akibat dinginnya udara.
“Dari mana diak?” Uda itu bertanya padaku.
“Awak dari kampus Da”, jawabku.
“Mau pulang ya? Tinggal dimana diak?”
 “Awak tinggal di Pasa Usang Da”.
“Oh yang dekat orang tabrakan maut angkot versus travel tu?”.
“Ha, persis sekali Da.”
“Gimanasih kronologi tabrakan tu Diak?”
“Ngeri Da. Mobil travel dengan angkot itu saling baradu kambing. Awak kan ikut mengevakuasi korban. Jika diingat-ingat lagi, awak jadi ngeri sendiri Da. Korban yang meninggalpun banyak.”
Perbincangan kami semakin asyik. Aku menambah rokok sebatang lagi. Kini, tak ada lagi uang yang tersisa. Hujan belum mengisyaratkan reda. Jalanan semakin lengang. Malam semakin suram. Tiba-tiba saja perasaanku menjadi tidak enak. Bulu kudukku tiba,tiba berdiri.
“Tambah sepi saja ya Da. Hujan tidak juga berhenti. Mana ini Halte suram banget Da.”
“Iya Diak. Halte ini udah cukup tua. Uda saja sudah 10 tahun berjualan di sini.”
“Uda nggak ngeri kalau malam-malam begini sendiri di halte ini?”
“Udah biasa Diak. Dulu waktu awal-awal kematian seorang gadis di sini yang bunuh diri. Uda juga ngeri. Tapi sekarang sudah biasa.”
“bunuh diri?” Aku semakin merinding mendengar yang dikatakan Uda barusan. “Jangan-jangan hantu cewek itu ada di sekitar sini. Aduh bagaimana ini?” Aku semakin gusar. Karena biasanya orang yang bunuh diri itu arwahnya penasaran. Tetapi aku tetap menampakkan wajah santai kepada Uda.
Kulihat jam tanganku yang sedikit berembun terkena bias air hujan jarum pendeknya menunjuk angka 10 dan jarum panjangnya menunjuk angka 1. Ternyata sudah jam 10 lewat 5 menit dan berarti sudah satu setengah jam lebih aku setia menunggu air mata langit ini berhenti. Hari semakin larut dan malam semakin mencekam. Suasana halte semakin suram. Mungkin ini karena Uda Sabar bilang tempat ini angker. Aku menjadi penasaran dengan cerita apa yang ada di balik keangkeran yang dibilang Uda Sabar.
Uda lanjut menceritakan tentang cewek yang katanya bunuh diri itu. “Tujuh tahun yang lalu, ada seorang gadis yang tinggal di daerah ini. Dia seorang Mahasiswi yang cantik, rambutnya lurus panjang, kulitnya putih, dansenyumnya manis. Namanya Intan. Dia sering menanti bus kota di halte ini. Orangnya ramah, santun dan periang. Setiap pagi, sesaat sebelum naik bus dia selalu membeli tisu di kedai Uda.”
 “Nah, tibalah suatu malam yang terkutuk. Malam itu Intan yang baru pulang kuliah sekitar pukul 8 tiba di halte ini. Seperti biasa dia tidak lupa untuk melempar senyum manisnya ke arah saya. Walau dia tersenyum, tetapi senyumnya kali ini tampak berat. Seperti ada suatu masalah yang sedang dipikulnya. Saya menyapa dan sedikit berbincang dengannya. Tak lama di halte ini dia langsung pamit pulang kepada saya.”
“Ohh, terus Da?” Tanyaku kembali dengan tampang serius sembari membuang puntung rokokku ke lantai halte.
“Di Jalan pulang, tepatnya di gang itu.”
“Gang mana Da?”
“Gang yang itu, di sebelah rumah biru itu”. Kata Uda menunjuk ke arah rumah tingkat dua bercat biru yang tidak jauh dari halte.
“Ohh, terus-terus?”
“Kontrakan saya kan berada di ujung Gang itu. Jadi saya harus lewat gang itu setiap hari. Malam itu saya pulang seperti biasa, tak lama setelah Intan yang tinggal tak jauh dari kontrakan saya. Sekitar setengah jam setelah Intan, Uda pulang. Sambil menghisap sebatang rokok saya susuri gang yang agak kelam karena pencahayaan kurang dan lengang itu sendiri. Di sebelah kiri Gang ini terdapat sepetak tanah yang dipenuhi semak-semak. Kata orang sih itu tanah sengketa. Uda masuk ke sana dengan maksud hati buang air kecil. Tetapi setibanya Uda di sana. Uda terperanjat dan menjadi mematung beberapa saat. Tak Uda sangka, Uda temui sosok tubuh gadis sedang bergelantungan dengan seutas tali dan posisi lidah menjulur keluar di atas pohon jambu tua di semak itu. Tas bukunya berserakan di tanah. Pakaiannya juga berantakan seperti habis diperkosa. Yang menambah sesak nafas Uda, mayat itu adalah Intan.”
Aku pun terkejut mendengar cerita Uda tadi. Aku bertanya-tanya dalam hati, mengapa orang secantik dan seramah itu dan sepertinya hidupnya tanpa masalah, Intan kok bisa bunuh diri. Kini otakku pula yang dipusingkan oleh pertanyaan ini.
“Kok bisa gitu ya Da?” Tanyaku.
“Entahlah Diak. Banyak spekulasi tentang hal itu. Ada yang bilang karena depresi putus cinta, masalah keluarga. Tapi tak ada yang menguatkan dan meyakinkan Uda. Uda yakin Intan telah dibunuh oleh orang yang kurang ajar.”
“Lalu apa hubungannya dengan halte ini menjadi suram Da?”
“Hmm, soal itu. Mungkin karena Intan sering ke sini jadi tempat ini jadi kebawa angker deh. Hehe.”
Wah gila ni si Uda. Jantung saya udah dag dig dug der, dia masih sempat ketawa. Hujan udah sedikit reda. Aku mohon undur diri pamit pulang dan berterimakasih kepada Uda karena sudah mau menemani aku menunggu hujan reda.
“Da, awak pulang dulu ya. Udah teduh ni.” Sambil mengengkol vespa saya dan melekatkan helem ke kepala.
“Ya, Diak. Hati-hati.” Jawab Uda.
Sebelum pergi melaju pulang. Saya melihat kearah Uda sejenak. Namun saya dapati Uda tadi tidak sendiri. Uda Sabar ditemani oleh Gadis berbaju putih dengan rambut panjang di halte tua itu.
***