Harian Singgalang Minggu, 25 Agustus 2013
Sebetulnya
hal sperti ini sudah lumrah terjadi di negaraku. Sekali lima tahun kami pasti
mengadakan pemilu untuk memilih anggota legislatif dan eksekutif.
Meski
sudah banyak fakta membuktikan bahwa caleg-caleg yang gagal banyak yang
berujung rumah sakit jiwa karena kehabisan harta. Namun, penggemar profesi ini
tetap saja meningkat.
Untuk
menuju pemilu biasanya ada masa kampanye. Baliho, poster-poster, stiker dan
segala macam bertebaran ditempel dimana-mana.
Pemilu
di negaraku ini sebenarnya masih sekitar satu tahun lagi tapi kampanye sudah
dimulai jauh- jauh hari. Baliho sebesar iklan rokok bahkan lebih terpampang nyata
di jalanan. Pohon-pohon rindang juga tak luput dari poster-poster caleg untuk
digerogoti batangnya. Stiker-stiker disebar dimana-mana. Bahkan di kaca kamar
mandiku juga tertempel stiker seorang wanita muda dari partai yang katanya mewakili
generasi muda, tersenyum seakan mentertawaiku yang sedang sabunan di kamar
mandi. Entah siapa yang menempel, aku tak tahu.
Juga
ada yang membuat kalender. Kalender ini juga ada dirumahku. Tanggal-tanggal
pada kalendernya dibuat kecil. Mungkin hanya seperlima saja dari halaman
kalender. Sedangkan foto beliau dengan kumis meramang memenuhi halaman kalender
itu. Terpajang tepat di ruang tamuku.
Berlatarkan warna mencolok. Sehingga lebih menarik perhatian dibandingkan foto closeup-ku ala cover boy majalah-majalah.
Aku
sebenarnya tidak peduli siapa yang mau duduk menjadi legislatif, eksekutif,
yudikatif dan tif-tif lainnya. Toh, kehidupanku akan tetap seperti ini juga.
Namun sebagai warga negara yang baik dan insyaallah masuk syurga, aku harus
menunaikan kewajiban untuk memilih walaupun hak ku sering terabaikan. Aku
memutuskan akan mencoblos salah satu dari beliau-beliau yang telah rela
berkorban segala-gala demi masa depannya yang tentu cerah setelah duduk nanti.
***
Aku
memang bukan seorang pegawai yang bergaji atau lebih tepatnya belum. Aku
seorang pendatang baru didunia perpengangguran. Bisa dibilang masih kelas bulu
dalam dunia tinju WBA.
Aku
baru lulus kuliah dari universitas negeri di kotaku setahun yang lalu dengan
IPK yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Lebih tepatnya
pas-pasan.
Memang
sudah nasibku mungkin menjadi orang pas-pasan. IPK pas-pasan, ekonomi keluarga
pas-pasan, tampang pun pas-pasan, akibatnya aku masih jomlo dari lahir sampai
sekarang. Nasib-nasib.
Hari
ini aku berencana akan pergi interview
di salah satu perusahaan swasta. Beberapa hari yang lalu aku mendapatkan e-mail
bahwa aku lolos seleksi dan akan diwawancara pagi ini. Ini entah sudah
perusahaan ke berapa yang aku kirimi lamaran pekerjaan. Tapi syukurlah aku
dapat panggilan.
Zaman
sekarang mencari pekerjaan memang susah. Bagiku yang berlabel Amd atau sarjana
muda teknik mesin juga susah. Padahal untuk lulus dari jurusan ini sangat
susah. Setelah lulus, aku juga dihadapi dengan kesusahan lainnya. Aku harus
bersaing dari ratusanribu sarjana muda teknik mesin dari seluruh penjuru
negaraku karena memang bukan kampusku saja yang mencetak sarjana muda teknik
mesin ini. Beruntunglah aku, hari ini aku mendapat panggilan oleh perusahaan.
Aku
selalu bangun pagi, hari ini pun begitu. Aku dengan senyum sumringah karena
baru saja mimpi basah, langsung menuju kamar mandi. Aku menggosok gigi, sambil
sesekali memandangi wajah wanita yang berada pada stiker yang tertempel di kaca
kamar mandiku. Rambutnya tergerai panjang, bibirnya merah, wajahnya putih
mulus, cantik juga. Membuat aku berfantasi. Ah, ada-ada saja.
Selesai
mandi aku langsung menuju kamar untuk memakai pakaian yang rapi karena akan
interview. Aku lihat jam dinding yang juga ada gambar caleg dari Partai Ungu.
Sudah jam 07.00 WIB. Wah bisa telat nih. Gara-gara kelamaan di kamar mandi jadi
gini deh.
Aku
harus bergegas satu jam lagi interviewnya akan dimulai. Tanpa sisiran dan tanpa
pakai deodoran aku langsung memakai sepatu tapi aku tidak lupa minum susu.
Aku
juga tidak lupa pamit dengan Papa-Mama walau hanya dengan sorakan dari luar.
Aku juga tidak lupa minta restu kepada bapak caleg yang ada di ruang tamu. Aku
menatap sekilas kumis meramang bapak yang ada pada kalender itu, penuh harap.
Tanpa
manasin motor lebih dulu, aku langsung menggeber motorku menuju jalan raya.
***
Jalanan
masih cukup lengang dan aku masih punya waktu sekitar 45 menit lagi. Sambil bersiul-siul
di jalanan, aku melihat-lihat pemandangan di sekitar. Tidak ada yang spesial
dan indah. Hanya poster-poster dan baliho-baliho yang setia tersenyum
menatapku. Entah mereka mengejek motorku yang butut atau mereka mencimees. Entahlah ku rasa sama saja.
Kuperhatikan
gambar-gambar mereka satu-persatu. Ternyata lucu juga. Ada yang ekspresi
terkejut, senyum terpaksa, senyum cimees,
sok seksi, dan banyak lagi.
Baru
ku sadari pula ternyata dari pohon dekat rumahku sampai dijalan ini ditempeli
oleh poster yang sama, oleh satu orang saja. Dengan rambut putih dan senyuman
khas bahagia tampaknya.
Mungkin
itu strategi politik. Bagus juga idenya. Dari pada memasang satu baliho sebesar
iklan rokok, lebih baik memasang poster kecil di pohon-pohon juga semak-semak
tetapi banyak.
***
Sepuluh
menit berlalu, aku sampai di perempatan jalan. Aku hendak mengambil jalan
lurus. Di salah satu sudut jalan, terpampang baliho besar. Itu baliho wanita
yang ada pada stiker yang mejeng di kamar mandiku. Kali ini tampak
jelas semuanya. Memang cantik dan seksi.
Lampu
hijau dan aku melaju kembali. Gara-gara baliho tadi aku jadi berfantasi lagi
tentang wanita itu. Andai saja dia itu pacarku. Pasti sangat menyenangkan. Apa
lagi kalau lagi berduaan.
Lamunanku
buyar, setelah di ujung pertigaan jalan aku dihadang baliho bapak dengan kumis
meramang. Aku terperanjat, kaget. Tanpa sadar aku menabrak sepeda motor yang
berada di depanku.
Aku
perhatikan baik-baik, pakaiannya. Sepatu boot khas, celana warna coklat dan
rompi hijau menyala. Tanpa berpikir panjang kali lebar sama dengan luas, otakku
menterjemahkan itu polisi lalu lintas.
Wah,
gawat. Polisi itu memandangiku garang. Aku ketakutan, lalu menggeber motor
menembus lampu merah juga menempuh jalan perboden.
Pikiranku
kalut. Aku salib kiri-kanan dan sewaktu aku menoleh ke belakang untuk melihat
Pak Polisi, motorku yang melaju kencang menabrak pohon beringin yang ada di
sisi kanan jalan.
Aku
terkangkang terhimpit sepeda motorku. Penglihatanku terasa gelap. Nanar ku
tatap sebuah poster di pohon itu bergambarkan bapak caleg yang selalu ada di
pohon-pohon sepanjang jalan. Wajahnya masih saja tersenyum sumringah melihatku
menderita. Padahal tidak habis mimpi basah.
****

Excelent....
BalasHapus:DD
mokasih pakbro :D
Hapus