Sabtu, 06 April 2013

Cerpen Sepeda


SEPEDA
Oleh Riedho Kurnia Pamungkas


Koran Harian Singgalang Minggu, 07 April 2013
Setiap sore, Adi dan anaknya Iqbal selalu pergi mencari rumput untuk pakan sapi Pak Dullah yang digembalainya. Sore itu Adi memilih untuk menyabit rumput di sekitar lapangan bola desa sebelah. Adi mulai mengasah sabitnya dan siap beraksi, sementara itu Iqbal duduk di bawah pohon pinus beralaskan karung untuk penyimpan rumput sembari membaca buku.
Adi dengan sigap memangkas rumput-rumput. Sabitnya seperti kucing kelaparan yang memakan dengan rakus lauk dihadapannya. Adi berhenti sejenak untuk memadatkan karungnya dengan rumput-rumput. Adi memanggil Iqbal yang dari tadi duduk bermenung di bawah pohon pinus untuk membawakan karung yang didudukinya. Sudah berkali-kali Adi memanggil Iqbal tetapi Iqbal tetap tidak menyahut.
Diperhatikan olehnya anaknya itu. Ternyata Iqbal sedang asyik memperhatikan anak-anak yang sedang bermain sepeda di seberang lapangan.
”Kamu juga mau sepeda?”
”Iya, Yah. Teman-teman semuanya udah punya sepeda. Cuma Iqbal yang belum.”
”InsyaAllah ayah janji nanti kalau ada duit, secepatnya kamu ayah belikan sepeda.”
”Benar, Yah?” Dengan penuh harap Iqbal menatap Ayahnya.
”Iya.” Seraya mengusap-usap rambut anaknya. ”Sekarang, bawa sini karung itu! Ayah mau menyabit lagi.”
Sang surya telah berangsur membenamkan dirinya di ujung laut. Diiringi adzan magrib yang berkumandang, Adi dan Iqbal bergegas pulang agar tidak keburu habis waktu magribnya.
***
”Dik, tadi Uda berjanji kepada si Iqbal untuk membelikan sepeda.”
”Sepeda? Uang dari mana Da? Uang pinjaman dari Pak Dullah kemarin sudah dipakai untuk membayar uang sekolah Iqbal. Terus uang mana lagi? Apa Uda mau minjam uang lagi? Utang kita sudah banyak Da.”
”Tenang Dik, tenanglah! Uda mengerti. Tapi Uda kasihan lihat si Iqbal. Teman-teman seusianya pada udah punya sepeda semuanya, kasihan Dik. Dia kan anak kita satu-satunya.”
”Iya uda sayang, aku juga kasihan. Dia kan juga anak kandungku. Tapi masalahnya, kita tidak punya uang. Untuk makan saja susah. Uda malah janjikan anak itu yang tidak-tidak.”
”Huft... tenang Dik. Uda akan carikan uang untuk sepeda Iqbal, untuk makan, dan kebutuhan kita yang lainnya. Tenanglah Dik! Uda akan bekerja lebih keras lagi.”
”Terserah Uda lah. Aku mau tidur dulu.”
Adi berpikir semalaman. Memikirkan mau cari uang di mana. Matanya tak terlelapkan. Walau matanya terpicing tetapi hatinya bertanggang. Pikirannya melayang-layang hingga adzan subuh pun berkumandang.
***
Pagi itu hujan turun. Iqbal telah bersiap pergi ke sekolah. Setelah berpamitan kepada kedua orangtuanya Iqbal berangkat ke sekolah berlari menerobos hujan. Sekolahnya yang berjarak 2 km dari rumah, cukup untuk membuat kuyup seragam sekolahnya.
”Lihat itu, Dik. Anak kita semangatnya bersekolah sangat tinggi.”
”Iya, Uda, aku tahu itu,” jawabnya singkat.
”Itulah sebabnya aku ingin membelikannya sepeda, agar dia lebih giat lagi belajar.”
Istri Adi tak menanggapi omongan Adi. Dia terus melanjutkan membereskan tempat tidur. ”Sebenarnya aku juga ingin Iqbal dapat sepeda baru. Anak-anak tetanggaku juga sudah pada punya sepeda. Aku tahu perasaannya. Aku ini Ibunya. Tapi aku sadar bahwa sepeda itu tidak murah harganya.” Dia mencoba menahan air matanya. Namun tak tertahankan. Dia terkenang saat awal meminta restu kepada orang tuanya. Orang tuanya kurang setuju dengan keputusannya  menikah dengan Adi yang masa depannya tidak jelas menurut orang tuanya. ”Aku tidak boleh menangis. Menikah dan hidup bersama dengan Adi adalah pilihanku. Aku tidak boleh menyesalinya.” Bergegas diusapnya air matanya dengan selimut yang di genggamnya.
Adi pamit kepada istrinya untuk mencari rupiah. Tampak olehnya mata istrinya itu merah. Dia tahu istrinya usai menangis. Tetapi Adi tak menanyakannya. Ia tahu sebab istrinya menangis.
”Hari ini balai. Aku harus bergegas ke pasar.” Adi pergi menuju pasar untuk mengail rupiah yang telah ditakdirkan untuknya. Adi seorang pekerja keras, walau memang hanya bekerja serabutan. Kadang jadi kuli panggul, membantu menjual ikan di pasar, jadi buruh tani, kadang juga ngojek kalau ada yang mau meminjamkan motor. Bagi Adi yang hanya tamatan SMP memang susah mencari pekerjaan yang bagus zaman sekarang ini. Sarjana saja banyak yang menganggur apa lagi tamatan SMP.
Hari balai begini memang cukup menguntungkan bagi Adi. Penghasilannya membantu Pak Dullah berjualan ikan di pasar cukup untuk makan keluarganya selama dua hari ke depan.
Pak Dullah memang sangat baik kepada Adi dan keluarganya. Selain memberikan pekerjaan kepada Adi untuk menggembalakan sapi dan membantunya berjualan ikan di pasar, Pak Dullah juga sering memberikan pinjaman uang kepada Adi, walaupun belum ada satu rupiah pun uangnya dikembalikan Adi.
”Ini, Di, untuk kamu.” Pak Dullah menyodorkan uang seratus ribu kepada Adi.
”Loh, Pak, ini berlebih bukan, Pak?”
”Sudah ambil saja! Hari ini kamu sudah banyak sekali membantu saya.”
”Terima kasih, Pak.” Adi tersenyum sumringah. Biasanya Adi hanya dapat lima puluh ribu saja tetapi hari ini dia mendapatkan lebih.
Seratus ribu rupiah berhasil didapatnya hari ini, usai membantu Pak Dullah berjualan ikan. ”Alhamdulillah, ini bisa kusimpan separo untuk membeli sepeda Iqbal.” Siang itu setelah sholat dzuhur di mesjid dekat pasar, Adi melangkah pulang. Diperjalanan pulang Adi singgah di sebuah toko sepeda untuk melihat-lihat.
”Ini sepeda fixie Pak. Harganya satu juta lima ratus ribu rupiah saja. Kalau yang itu sepeda BMX, Pak. Anak laki-laki pada suka sepeda jenis itu Pak. Harganya Cuma delapan ratus ribu.”
Adi tercengang mendengar harga sepeda yang selangit. ”butuh nabung setahun mungkin aku baru bisa dapat sepeda itu.” Adi merasa masygul. Raut wajah iba tampak pada air mukanya.
”Harga sepeda baru memang cukup mahal, Pak. Kalau yang harganya agak menenggang, mungkin Bapak bisa lihat toko sebelah. Di sebelah ada menjual sepeda bekas,” kata pelayan toko, yang sepertinya mengerti bahwa Adi tak punya cukup uang.
Adi pun mendatangi toko sepeda bekas itu. Harganya memang relatif murah tetapi masih cukup mahal bagi Adi. Dua ratus ribu harga yang dipatok toko itu untuk sepeda BMX yang sudah dicat baru karena karatan itu. Namun uangnya masih tidak cukup untuk itu. Selain itu, Adi juga ingin anaknya itu memakai sepeda yang baru bukan sepeda seken.
Adi melanjutkan perjalanan ke rumah dengan langkah gontai dan kepala tertunduk.  Di perjalanan Adi melihat sebuah sepeda BMX berwarna merah bata persis seperti yang dilihatnya di toko tadi terparkir di depan sebuah rumah yang cukup mewah. Itu rumah Pak Rudi pegawai BUMN yang dikenal orang kaya pelit. Terbesit dibenak Adi untuk melarikan sepeda itu. Kawasan sekitar sedang lengang, rumah itu pun sedang sepi. ”Ah, orang kaya seperti Pak Rudi sepeda satu ini pasti tidak seberapa.” Gelap mata, Adi pun terbujuk rayu setan melarikan sepeda itu. Adi mengayuh kebut sepeda itu ke rumahnya.
Istrinya yang sedang menyapu halaman rumahnya yang sempit tercengang melihat Adi dengan sebuah sepeda baru. Iqbal bersorak riang dari dalam rumah. Adi yang dengan nafas terengah-engah dari tadi mengayuh kebut sepeda menebar senyum sumringah kepada anak dan istrinya.
”Iqbal,  ini ayah bawakan sepeda untuk kamu, Nak.”
”Wah bagus sekali Yah. Ayah beli di mana?”
”Ahh... kamu mau tahu saja. Sudah kamu pergi sana main sepeda! Ayah mau mandi dulu.”
Iqbal mengusap-usap sepeda barunya dan menaiki sepedanya dengan riang walau belum mahir betul bermain sepeda. Ibunya masuk ke rumah menyusul Ayahnya dan meninggalkan Iqbal yang asyik dengan sepedanya.
”Da, Uang dari mana beli sepeda? Uda minjam uang lagi?”
”Tidak kok.”
”Terus dari mana?” Istrinya menanya dengan curiga.
”Ah, tidak usah kamu pikirkan itu, Dik. Lebih baik kamu belanja ke pasar. Itu ambil uang belanja di atas meja. Aku mau mndi dulu, gerah.” Adi terus masuk ke kamar mandi.
Iqbal dengan sepeda barunya melenggang pergi ke lapangan untuk pamer kepada teman-temannya. Di lapangan ditemuinya anak-anak sedang ramai bermain sepeda. Dengan perasaan senang Iqbal masuk ke kerumunan anak-anak itu. Anak-anak itu ada yang tercengang dan ada yang takjub dengan sepeda baru Iqbal yangterlihat mahal itu.
”Wah, bagus sepeda barumu, Bal. Nyolong di mana? Hahaha.” Ledek salah seorang anak.
”Enak saja nyolong. Ini sepeda baru dibelikan Ayahku.”
”Ah, aku nggak percaya. Ayah kamu kan miskin, mana punya uang Dia beli sepeda mahal seperti ini.” Sahut anak lainnya.
”Ini Ayahku yang beli.” Tegas Iqbal.
Dari kejauhan tampak Iwan anak Pak Rudi yang terkenal kaya itu. Iwan berjalan menuju kerumunan anak-anak itu. Iwan melirik ke arah sepeda yang ditunggangi Iqbal.
”Aku kayak kenal sama sepeda ini.” Ujar Iwan sembari mengitari sepeda yang ditunggangi Iqbal.
”Ini sepeda baru yang dibelikan Ayahku tadi siang.” Sahut Iqbal kesal karena dari tadi orang mempertanyakan sepedanya.
”Kok mirip banget ya sama sepedaku yang tadi siang hilang?” Iwan mengecek sepeda itu dengan seksama. ”Nah, ini dia. Ini tanda sepedaku. Ada inisial namaku pada bagian bawah sadel sepeda. ’IC’ itu kepanjangannnya Iwan Caniago. Ayo ngaku sekarang! Kamu pasti yang mencuri sepedaku tadi.”
”Jangan sembarangan kamu! Ini sepedaku,” tantang Iqbal.
Iqbal yang tidak menerima tuduhan Iwan, mengayuh sepedanya dengan kencang menjauh dari anak-anak itu. Iwan dan anak-anak lainnya tidak membiarkan Iqbal pergi begitu saja. Mereka terus mengejar Iqbal.
Iqbal yang sebenarnya belum mahir betul bermain sepeda terus melaju kencang hingga pada sebuah simpang empat. Sebuah sepeda motor dari arah kanan melaju kencang menabrak Iqbal yang juga tengah melaju kencang. Iqbal terpelanting jauh kepojokan jalan. Kepalanya terbentur batu besar hingga bocor. Darah becucuran dari kepalanya. Jalanan sepi. Pengendara sepeda motor yang menabraknya melarikan diri karena takut dimintai pertanggungjawaban. Anak-anak yang sedari tadi mengejar Iqbal pun kabur.
***
 
Riedho Kurnia Pamungkas
Mahasiswa Pendidikan Bahas dan Sastra Indonesia
Universitas Negeri Padang