SEPEDA
Oleh Riedho Kurnia Pamungkas
Oleh Riedho Kurnia Pamungkas
Koran Harian Singgalang Minggu, 07 April 2013
Setiap sore, Adi dan
anaknya Iqbal selalu pergi mencari rumput untuk pakan sapi Pak Dullah yang
digembalainya. Sore itu Adi memilih untuk menyabit rumput di sekitar lapangan
bola desa sebelah. Adi mulai mengasah sabitnya dan siap beraksi, sementara itu
Iqbal duduk di bawah pohon pinus beralaskan karung untuk penyimpan rumput sembari
membaca buku.
Adi dengan sigap memangkas
rumput-rumput. Sabitnya seperti kucing kelaparan yang memakan dengan rakus lauk
dihadapannya. Adi berhenti sejenak untuk memadatkan karungnya dengan
rumput-rumput. Adi memanggil Iqbal yang dari tadi duduk bermenung di bawah
pohon pinus untuk membawakan karung yang didudukinya. Sudah berkali-kali Adi
memanggil Iqbal tetapi Iqbal tetap tidak menyahut.
Diperhatikan olehnya
anaknya itu. Ternyata Iqbal sedang asyik memperhatikan anak-anak yang sedang
bermain sepeda di seberang lapangan.
”Kamu juga mau sepeda?”
”Iya, Yah. Teman-teman semuanya udah
punya sepeda. Cuma Iqbal yang belum.”
”InsyaAllah ayah janji
nanti kalau ada duit, secepatnya kamu ayah belikan sepeda.”
”Benar, Yah?” Dengan penuh harap Iqbal
menatap Ayahnya.
”Iya.” Seraya
mengusap-usap rambut anaknya. ”Sekarang, bawa sini karung itu! Ayah mau
menyabit lagi.”
Sang surya telah
berangsur membenamkan dirinya di ujung laut. Diiringi adzan magrib yang
berkumandang, Adi dan Iqbal bergegas pulang agar tidak keburu habis waktu magribnya.
***
”Dik,
tadi Uda berjanji kepada si Iqbal untuk membelikan sepeda.”
”Sepeda? Uang dari mana
Da? Uang pinjaman dari Pak Dullah kemarin sudah dipakai untuk membayar uang
sekolah Iqbal. Terus uang mana lagi? Apa Uda mau minjam uang lagi? Utang kita sudah
banyak Da.”
”Tenang Dik, tenanglah!
Uda mengerti. Tapi Uda kasihan lihat si Iqbal. Teman-teman seusianya pada udah
punya sepeda semuanya, kasihan Dik. Dia kan anak kita satu-satunya.”
”Iya uda sayang, aku
juga kasihan. Dia kan juga anak kandungku. Tapi masalahnya, kita tidak punya
uang. Untuk makan saja susah. Uda malah janjikan anak itu yang tidak-tidak.”
”Huft... tenang Dik.
Uda akan carikan uang untuk sepeda Iqbal, untuk makan, dan kebutuhan kita yang
lainnya. Tenanglah Dik! Uda akan bekerja lebih keras lagi.”
”Terserah
Uda lah. Aku mau tidur dulu.”
Adi berpikir semalaman.
Memikirkan mau cari uang di mana. Matanya tak terlelapkan. Walau matanya
terpicing tetapi hatinya bertanggang. Pikirannya melayang-layang hingga adzan
subuh pun berkumandang.
***
Pagi itu hujan turun.
Iqbal telah bersiap pergi ke sekolah. Setelah berpamitan kepada kedua
orangtuanya Iqbal berangkat ke sekolah berlari menerobos hujan. Sekolahnya yang
berjarak 2 km dari rumah, cukup untuk membuat kuyup seragam sekolahnya.
”Lihat itu, Dik. Anak
kita semangatnya bersekolah sangat
tinggi.”
”Iya, Uda, aku tahu itu,” jawabnya
singkat.
”Itulah sebabnya aku
ingin membelikannya sepeda, agar dia lebih giat lagi belajar.”
Istri Adi tak
menanggapi omongan Adi. Dia terus melanjutkan membereskan tempat tidur. ”Sebenarnya
aku juga ingin Iqbal dapat sepeda baru. Anak-anak tetanggaku juga sudah pada
punya sepeda. Aku tahu perasaannya. Aku ini Ibunya. Tapi aku sadar bahwa sepeda
itu tidak murah harganya.” Dia mencoba menahan air matanya. Namun tak
tertahankan. Dia terkenang saat awal meminta restu kepada orang tuanya. Orang
tuanya kurang setuju dengan keputusannya
menikah dengan Adi yang masa depannya tidak jelas menurut orang tuanya.
”Aku tidak boleh menangis. Menikah dan hidup bersama dengan Adi adalah
pilihanku. Aku tidak boleh menyesalinya.” Bergegas diusapnya air matanya dengan
selimut yang di genggamnya.
Adi pamit kepada
istrinya untuk mencari rupiah. Tampak olehnya mata istrinya itu merah. Dia tahu
istrinya usai menangis. Tetapi Adi tak menanyakannya. Ia tahu sebab istrinya
menangis.
”Hari ini balai. Aku
harus bergegas ke pasar.” Adi pergi menuju pasar untuk mengail rupiah yang
telah ditakdirkan untuknya. Adi seorang pekerja keras, walau memang hanya bekerja
serabutan. Kadang jadi kuli panggul, membantu menjual ikan di pasar, jadi buruh
tani, kadang juga ngojek kalau ada yang mau meminjamkan motor. Bagi Adi yang
hanya tamatan SMP memang susah mencari pekerjaan yang bagus zaman sekarang ini.
Sarjana saja banyak yang menganggur apa lagi tamatan SMP.
Hari balai begini
memang cukup menguntungkan bagi Adi. Penghasilannya membantu Pak Dullah
berjualan ikan di pasar cukup untuk makan keluarganya selama dua hari ke depan.
Pak Dullah memang
sangat baik kepada Adi dan keluarganya. Selain memberikan pekerjaan kepada Adi untuk
menggembalakan sapi dan membantunya berjualan ikan di pasar, Pak Dullah juga
sering memberikan pinjaman uang kepada Adi, walaupun belum ada satu rupiah pun
uangnya dikembalikan Adi.
”Ini, Di, untuk kamu.” Pak Dullah
menyodorkan uang seratus ribu kepada Adi.
”Loh, Pak, ini berlebih bukan, Pak?”
”Sudah ambil saja! Hari
ini kamu sudah banyak sekali membantu saya.”
”Terima kasih, Pak.” Adi tersenyum sumringah.
Biasanya Adi hanya
dapat
lima puluh ribu saja tetapi hari ini dia mendapatkan lebih.
Seratus ribu rupiah
berhasil didapatnya hari ini, usai membantu Pak Dullah berjualan ikan.
”Alhamdulillah, ini bisa kusimpan separo untuk membeli sepeda Iqbal.” Siang itu
setelah sholat dzuhur di mesjid dekat pasar, Adi melangkah pulang. Diperjalanan
pulang Adi singgah di sebuah toko sepeda untuk melihat-lihat.
”Ini sepeda fixie Pak.
Harganya satu juta lima ratus ribu rupiah saja. Kalau yang itu sepeda BMX, Pak. Anak laki-laki pada suka
sepeda jenis itu Pak. Harganya Cuma delapan ratus ribu.”
Adi tercengang
mendengar harga sepeda yang selangit. ”butuh nabung setahun mungkin aku baru
bisa dapat sepeda itu.” Adi merasa masygul. Raut wajah iba tampak pada air
mukanya.
”Harga sepeda baru
memang cukup mahal,
Pak. Kalau yang harganya agak menenggang, mungkin Bapak bisa lihat toko
sebelah. Di sebelah ada menjual sepeda bekas,” kata pelayan toko, yang
sepertinya mengerti bahwa Adi tak punya cukup uang.
Adi pun mendatangi toko
sepeda bekas itu. Harganya memang relatif murah tetapi masih cukup mahal bagi
Adi. Dua ratus ribu harga yang dipatok toko itu untuk sepeda BMX yang sudah
dicat baru karena karatan itu. Namun uangnya masih tidak cukup untuk itu. Selain
itu, Adi juga ingin anaknya itu memakai sepeda yang baru bukan sepeda seken.
Adi melanjutkan
perjalanan ke rumah dengan langkah gontai dan kepala tertunduk. Di perjalanan Adi melihat sebuah sepeda BMX
berwarna merah bata persis seperti yang dilihatnya di toko tadi terparkir di
depan sebuah rumah yang cukup mewah. Itu rumah Pak Rudi pegawai BUMN yang
dikenal orang kaya pelit. Terbesit dibenak Adi untuk melarikan sepeda itu.
Kawasan sekitar sedang lengang, rumah itu pun sedang sepi. ”Ah, orang kaya
seperti Pak Rudi sepeda satu ini pasti tidak seberapa.” Gelap mata, Adi pun
terbujuk rayu setan melarikan sepeda itu. Adi mengayuh kebut sepeda itu ke
rumahnya.
Istrinya yang sedang
menyapu halaman rumahnya yang sempit tercengang melihat Adi dengan sebuah
sepeda baru. Iqbal bersorak riang dari dalam rumah. Adi yang dengan nafas
terengah-engah dari tadi mengayuh kebut sepeda menebar senyum sumringah kepada
anak dan istrinya.
”Iqbal, ini ayah bawakan sepeda untuk kamu, Nak.”
”Wah bagus sekali Yah.
Ayah beli di mana?”
”Ahh... kamu mau tahu
saja. Sudah kamu pergi sana main sepeda! Ayah mau mandi dulu.”
Iqbal mengusap-usap
sepeda barunya dan menaiki sepedanya dengan riang walau belum mahir betul
bermain sepeda. Ibunya masuk ke rumah menyusul Ayahnya dan meninggalkan Iqbal
yang asyik dengan sepedanya.
”Da, Uang dari mana
beli sepeda? Uda minjam uang lagi?”
”Tidak kok.”
”Terus dari mana?” Istrinya
menanya dengan curiga.
”Ah, tidak usah kamu
pikirkan itu,
Dik. Lebih baik kamu belanja ke pasar. Itu ambil uang belanja di atas meja. Aku
mau mndi dulu, gerah.” Adi terus masuk ke kamar mandi.
Iqbal dengan sepeda
barunya melenggang pergi ke lapangan untuk pamer kepada teman-temannya. Di
lapangan ditemuinya anak-anak sedang ramai bermain sepeda. Dengan perasaan
senang Iqbal masuk ke kerumunan anak-anak itu. Anak-anak itu ada yang
tercengang dan ada yang takjub dengan sepeda baru Iqbal yangterlihat mahal itu.
”Wah, bagus sepeda
barumu,
Bal. Nyolong di mana?
Hahaha.” Ledek salah seorang anak.
”Enak saja nyolong. Ini
sepeda baru dibelikan Ayahku.”
”Ah, aku nggak percaya.
Ayah kamu kan miskin, mana punya uang Dia beli sepeda mahal seperti ini.” Sahut
anak lainnya.
”Ini Ayahku yang beli.”
Tegas Iqbal.
Dari kejauhan tampak
Iwan anak Pak Rudi yang terkenal kaya itu. Iwan berjalan menuju kerumunan
anak-anak itu. Iwan melirik ke arah sepeda yang ditunggangi Iqbal.
”Aku kayak kenal sama
sepeda ini.” Ujar Iwan sembari mengitari sepeda yang ditunggangi Iqbal.
”Ini sepeda baru yang
dibelikan Ayahku tadi siang.” Sahut Iqbal kesal karena dari tadi orang
mempertanyakan sepedanya.
”Kok mirip banget ya
sama sepedaku yang tadi siang hilang?” Iwan mengecek sepeda itu dengan seksama.
”Nah, ini dia. Ini tanda sepedaku. Ada inisial namaku pada bagian bawah sadel
sepeda. ’IC’ itu kepanjangannnya Iwan Caniago. Ayo ngaku sekarang! Kamu pasti
yang mencuri sepedaku tadi.”
”Jangan sembarangan
kamu! Ini sepedaku,” tantang Iqbal.
Iqbal yang tidak
menerima tuduhan Iwan, mengayuh sepedanya dengan kencang menjauh dari anak-anak
itu. Iwan dan anak-anak lainnya tidak membiarkan Iqbal pergi begitu saja.
Mereka terus mengejar Iqbal.
Iqbal yang sebenarnya
belum mahir betul bermain sepeda terus melaju kencang hingga pada sebuah
simpang empat. Sebuah
sepeda motor dari arah kanan melaju kencang menabrak Iqbal yang juga tengah
melaju kencang. Iqbal terpelanting jauh kepojokan jalan. Kepalanya terbentur
batu besar hingga bocor. Darah becucuran dari kepalanya. Jalanan sepi. Pengendara
sepeda motor yang menabraknya melarikan diri karena takut dimintai
pertanggungjawaban. Anak-anak yang sedari tadi mengejar Iqbal pun kabur.
***
Riedho Kurnia Pamungkas
Mahasiswa Pendidikan Bahas dan Sastra Indonesia
Universitas Negeri Padang