Sampai saat ini, detik ini, manis cerita itu masih saja menggenangi pikiranku. Saat-saat bahagiaku bersamamu. Pertama kali kau menyapaku, pertama kali senyum itu, tawa itu. Tak pernah sejengkal pun sisi kenangan itu ku lupa.
Kau orang asing. Tak berapa lama aku tahu denganmu. Tapi kau berhasil menjajah hatiku, menguasainya dengan manis, sempurna. Membuatku merasa begitu spesial. Dan kau tahu itu, aku selalu senang menjadi yang spesial bukan?
Aku selalu ingat, kala pertama aku menatap dalam-dalam matamu. Aku menemukan cinta di sana. Lalu kau bilang "Jangan tatap aku terlalu lama, kau akan terperangkap". Kau benar. Aku terperangkap. Aku sendiri yang menginginkan perangkap itu. Sejak saat itu, hingga hari ini. Tak pernah berubah. Mata itu telah menancapkan cinta yang dalam di dasar hatiku.
Aku ingat saat indah itu. Saat aku kecup pipimu. Cium keningmu dengan penuh cinta. Juga saat lembut bibirmu beri aku kehangatan yang tak pernah bisa ku lupa. Oh dear, i miss you.
Kau pasti tak pernah lupa saat ini. Aku tahu kau sangat menyukainya. Sewaktu aku menciumi mesra tanganmu. Penuh kehangatan dan aku tulus tanpa modus. Suer! Kau juga ingat tetntunya kala kau peluk aku. Saat bahagia, atau bahkan saat di motor. Hujan lebat, petir sambar-menyambar, kau takut sekali. Kau peluk aku erat. Aku tersenyum senang, bahagia sekali. Kau tidak berhenti malah makin erat.
Semuanya, termasuk sunset itu. Sunset yang sempurna. Sunset yang mengawali cerita kita. Yang akhirnya juga terkubur bersama senja. Aku susah lupa sayang, aku susah. Mungkin tak akan pernah. Waktu terus maju dan aku tetap tertinggal jauh dibelakang.
Kini, hampir setiap saat aku mencoba mengabaikannya. Mulai melupakan jengkal demi jengkal serpihan kisah kita. Kau kira berhasil? Kau salah. Sejengkal demi sejengkal ku coba, sejengkal bahkan dua jengkal atau tiga kenangan itu kembali menghujam hatiku.
Sayang, mengapa keadaan begitu kejam atau kita yang bodoh. Mengapa waktu tega mencabut panah cinta yang telah begitu dalam tertancap dihatiku. Waktu melaju tanpa menoleh pada hatiku lagi. Tak dihiraukannya luka yang berceceran, lubang yang dibuatnya akibat panah itu.
Mengapa sayang? Mengapa hati ini masih merindukanmu?
Kesenangan ini terlalu cepat berlalu bagiku. Kepedihan ini tidak cocok untukku. Mengapa semua ini terjadi? Tak berhakkah aku? Segala pertanyaan itu sayang, yang selalu ku hadapi setiap hari sejak saat itu.
Saat dimana kau memulai untuk tak hiraukan aku lagi. Saat dimana kau mencoba melangkah menemani waktu dan membiarkanku tertinggal bersama kenangan. Apa yang terjadi? Haruskah aku menyesali waktu?
Mengapa tak kau maklumi sayang. Segala kebodohanku. Kau tahu betapa berartinya kau untukku. Lalu mengapa kau tinggalkan aku begitu saja. Dan berlagak tegar di depan orang-orang, meninggalkan aku sebagai pecundang sendiri.
Sayang, aku masih bertanya, mengapa?
Tulisan bisa lebih tajam dari belati tetapi juga bisa lebih lembut dari pada kapas
Jumat, 18 Juli 2014
Sabtu, 15 Maret 2014
Desau Angin Langkisau
seperti langit biru yang
berpadu laut biru
jelas garis batasnya
saling bercumbu, mencipta suasana
desau angin di puncak langkisau
semilirnya belai lembut
buatku hanyut, dalam rindu
aroma elok khas mu
masih melekat keras dibenakku
ingat,
saat mata kita bertaut
kala sang surya beringsut surut
kata itu terucap
janji suci yang selalu kita dekap
jelas garis batasnya
saling bercumbu, mencipta suasana
desau angin di puncak langkisau
semilirnya belai lembut
buatku hanyut, dalam rindu
aroma elok khas mu
masih melekat keras dibenakku
ingat,
saat mata kita bertaut
kala sang surya beringsut surut
kata itu terucap
janji suci yang selalu kita dekap
Jumat, 14 Februari 2014
Barangkali-Barangkali
belakangan, setiap pagi
embun ini tak lagi kau sapabarangkali
embun ini tak sesejuk dulu belakangan, setiap siang
suara-suara rindu tak terdengar
barangkali
suara-suara itu tak lagi getar belakangan, setiap malam
khayal tak lagi mimpibarangkalialam telah terbunuh sepi
embun ini tak lagi kau sapabarangkali
embun ini tak sesejuk dulu belakangan, setiap siang
suara-suara rindu tak terdengar
barangkali
suara-suara itu tak lagi getar belakangan, setiap malam
khayal tak lagi mimpibarangkalialam telah terbunuh sepi
15 Februari 2014
Andai Ku Mampu
andai ku mampu,
ku curi sayap malaikat,
barang sejenak,
ku kan terbang ke sana,
ku kunjungi Mama di sana,
barang sejenak,
andai ku mampu,
ku kan berbaring dipangkuannya,
barang sedetik,
andai ku mampu,
barang sekejap,
aku ingin berjumpa.
22 Desember 2013
Awan-Awan Hitam
awan-awan hitam
menyingkirlah dari biru langitku
jangan nodai dengan mu yang kelam
namun, ku izinkan kau sejenak
tapi kau harus lekas tersentak
aku hanya ingin pelangimu
setelah manis hujanmu
bertengger indah di langit ku yang biru
20 Desember 2013
menyingkirlah dari biru langitku
jangan nodai dengan mu yang kelam
namun, ku izinkan kau sejenak
tapi kau harus lekas tersentak
aku hanya ingin pelangimu
setelah manis hujanmu
bertengger indah di langit ku yang biru
20 Desember 2013
Cinta Tak Terungkap
inilah cinta tak terungkap
yang terpendam dan tak pernah lengkap
kisahnya tak pernah terangkat
bahkan ke atas untuk sekedar menguap
inilah cinta hamba yang gelap
debu tebal erat mendekap
tak kan ada cahaya menyemburat
yang ada hanya harap
inilah api cinta yang terkalahkan asap
tak tampak, sekedar lalu lesap
cahayanya hanya indah sesaat
tinggalkan cinta yang menanggung ratap
19 Desember 2013
Langganan:
Postingan (Atom)