HALTE
TUA
Oleh
Riedho Kurnia Pamungkas
Sudah lebih setengah
jam aku berteduh di halte tua ini. Malam semakin larut dan sepi namun hujan tak
kunjung reda. Vespaku telah berhujan-hujan ria di pinggir halte. Seorang
pengendara motor yang sama-sama berteduh di halte bersamaku telah meluncur
pergi bersama tunggangannya menerobos derasnya hujan. Kini, tinggallah aku
berdua dengan seorang pemuda yang berjualan kaki lima di ujung halte tua ini.
Malam semakin larut
hujan tak jua reda bahkan bertambah deras. Udara malam semakin menusuk tubuhku
yang hanya dibalut oleh kaus oblong berwarna putih dengan sablon bertuliskan I
Love Padang dengan bawahannya celana jeans hitam dan sepatu sanghai hitam putih
yang sudah lusuh kesayanganku. Aku semakin kedinginan. Kurogoh saku celanaku
yang di sebelah kiri untuk mengambil hape. Ternyata layarnya telah hitam dan
tidak menyala lagi. “Ah, kenapa lowbat sih”. Lalu kurogoh saku celanaku yang di
sebelah kanan berharap masih ada rokok yang tersisa. “Duh, aku sial lagi, rokok
habis. O iya tadi kan rokokku yang tinggal sebatang telah kuhisap sewaktu di
parkiran kampus”. Aku hanya menemukan uang dua ribu rupiah di saku belakang.
Aku memutuskan untuk membeli sebatang rokok ke Uda penjual kaki lima di halte.
Aku langsung menyalakan rokokku dengan tangan yang mulai gemetar akibat
dinginnya udara.
“Dari
mana diak?” Uda itu bertanya padaku.
“Awak dari kampus Da”, jawabku.
“Mau pulang ya? Tinggal dimana diak?”
“Awak tinggal di Pasa Usang Da”.
“Oh yang dekat orang tabrakan maut angkot versus travel tu?”.
“Ha, persis sekali Da.”
“Gimanasih kronologi tabrakan tu Diak?”
“Ngeri Da. Mobil travel dengan angkot itu saling baradu kambing. Awak kan ikut mengevakuasi korban. Jika diingat-ingat lagi, awak jadi ngeri sendiri Da. Korban yang meninggalpun banyak.”
“Awak dari kampus Da”, jawabku.
“Mau pulang ya? Tinggal dimana diak?”
“Awak tinggal di Pasa Usang Da”.
“Oh yang dekat orang tabrakan maut angkot versus travel tu?”.
“Ha, persis sekali Da.”
“Gimanasih kronologi tabrakan tu Diak?”
“Ngeri Da. Mobil travel dengan angkot itu saling baradu kambing. Awak kan ikut mengevakuasi korban. Jika diingat-ingat lagi, awak jadi ngeri sendiri Da. Korban yang meninggalpun banyak.”
Perbincangan kami
semakin asyik. Aku menambah rokok sebatang lagi. Kini, tak ada lagi uang yang tersisa.
Hujan belum mengisyaratkan reda. Jalanan semakin lengang. Malam semakin suram.
Tiba-tiba saja perasaanku menjadi tidak enak. Bulu kudukku tiba,tiba berdiri.
“Tambah sepi saja ya
Da. Hujan tidak juga berhenti. Mana ini Halte suram banget Da.”
“Iya Diak. Halte ini udah cukup tua. Uda saja sudah 10 tahun berjualan di sini.”
“Uda nggak ngeri kalau malam-malam begini sendiri di halte ini?”
“Udah biasa Diak. Dulu waktu awal-awal kematian seorang gadis di sini yang bunuh diri. Uda juga ngeri. Tapi sekarang sudah biasa.”
“Iya Diak. Halte ini udah cukup tua. Uda saja sudah 10 tahun berjualan di sini.”
“Uda nggak ngeri kalau malam-malam begini sendiri di halte ini?”
“Udah biasa Diak. Dulu waktu awal-awal kematian seorang gadis di sini yang bunuh diri. Uda juga ngeri. Tapi sekarang sudah biasa.”
“bunuh diri?” Aku
semakin merinding mendengar yang dikatakan Uda barusan. “Jangan-jangan hantu
cewek itu ada di sekitar sini. Aduh bagaimana ini?” Aku semakin gusar. Karena
biasanya orang yang bunuh diri itu arwahnya penasaran. Tetapi aku tetap
menampakkan wajah santai kepada Uda.
Kulihat jam tanganku
yang sedikit berembun terkena bias air hujan jarum pendeknya menunjuk angka 10
dan jarum panjangnya menunjuk angka 1. Ternyata sudah jam 10 lewat 5 menit dan
berarti sudah satu setengah jam lebih aku setia menunggu air mata langit ini
berhenti. Hari semakin larut dan malam semakin mencekam. Suasana halte semakin
suram. Mungkin ini karena Uda Sabar bilang tempat ini angker. Aku menjadi
penasaran dengan cerita apa yang ada di balik keangkeran yang dibilang Uda
Sabar.
Uda lanjut menceritakan
tentang cewek yang katanya bunuh diri itu. “Tujuh tahun yang lalu, ada seorang
gadis yang tinggal di daerah ini. Dia seorang Mahasiswi yang cantik, rambutnya
lurus panjang, kulitnya putih, dansenyumnya manis. Namanya Intan. Dia sering
menanti bus kota di halte ini. Orangnya ramah, santun dan periang. Setiap pagi,
sesaat sebelum naik bus dia selalu membeli tisu di kedai Uda.”
“Nah, tibalah suatu malam yang terkutuk. Malam
itu Intan yang baru pulang kuliah sekitar pukul 8 tiba di halte ini. Seperti
biasa dia tidak lupa untuk melempar senyum manisnya ke arah saya. Walau dia
tersenyum, tetapi senyumnya kali ini tampak berat. Seperti ada suatu masalah
yang sedang dipikulnya. Saya menyapa dan sedikit berbincang dengannya. Tak lama
di halte ini dia langsung pamit pulang kepada saya.”
“Ohh, terus Da?” Tanyaku
kembali dengan tampang serius sembari membuang puntung rokokku ke lantai halte.
“Di Jalan pulang,
tepatnya di gang itu.”
“Gang mana Da?”
“Gang yang itu, di sebelah rumah biru itu”. Kata Uda menunjuk ke arah rumah tingkat dua bercat biru yang tidak jauh dari halte.
“Ohh, terus-terus?”
“Gang mana Da?”
“Gang yang itu, di sebelah rumah biru itu”. Kata Uda menunjuk ke arah rumah tingkat dua bercat biru yang tidak jauh dari halte.
“Ohh, terus-terus?”
“Kontrakan saya kan
berada di ujung Gang itu. Jadi saya harus lewat gang itu setiap hari. Malam itu
saya pulang seperti biasa, tak lama setelah Intan yang tinggal tak jauh dari
kontrakan saya. Sekitar setengah jam setelah Intan, Uda pulang. Sambil
menghisap sebatang rokok saya susuri gang yang agak kelam karena pencahayaan
kurang dan lengang itu sendiri. Di sebelah kiri Gang ini terdapat sepetak tanah
yang dipenuhi semak-semak. Kata orang sih itu tanah sengketa. Uda masuk ke sana
dengan maksud hati buang air kecil. Tetapi setibanya Uda di sana. Uda
terperanjat dan menjadi mematung beberapa saat. Tak Uda sangka, Uda temui sosok
tubuh gadis sedang bergelantungan dengan seutas tali dan posisi lidah menjulur
keluar di atas pohon jambu tua di semak itu. Tas bukunya berserakan di tanah.
Pakaiannya juga berantakan seperti habis diperkosa. Yang menambah sesak nafas
Uda, mayat itu adalah Intan.”
Aku pun terkejut
mendengar cerita Uda tadi. Aku bertanya-tanya dalam hati, mengapa orang
secantik dan seramah itu dan sepertinya hidupnya tanpa masalah, Intan kok bisa
bunuh diri. Kini otakku pula yang dipusingkan oleh pertanyaan ini.
“Kok bisa gitu ya Da?”
Tanyaku.
“Entahlah Diak. Banyak spekulasi tentang hal itu. Ada yang bilang karena depresi putus cinta, masalah keluarga. Tapi tak ada yang menguatkan dan meyakinkan Uda. Uda yakin Intan telah dibunuh oleh orang yang kurang ajar.”
“Lalu apa hubungannya dengan halte ini menjadi suram Da?”
“Hmm, soal itu. Mungkin karena Intan sering ke sini jadi tempat ini jadi kebawa angker deh. Hehe.”
“Entahlah Diak. Banyak spekulasi tentang hal itu. Ada yang bilang karena depresi putus cinta, masalah keluarga. Tapi tak ada yang menguatkan dan meyakinkan Uda. Uda yakin Intan telah dibunuh oleh orang yang kurang ajar.”
“Lalu apa hubungannya dengan halte ini menjadi suram Da?”
“Hmm, soal itu. Mungkin karena Intan sering ke sini jadi tempat ini jadi kebawa angker deh. Hehe.”
Wah gila ni si Uda.
Jantung saya udah dag dig dug der, dia masih sempat ketawa. Hujan udah sedikit
reda. Aku mohon undur diri pamit pulang dan berterimakasih kepada Uda karena
sudah mau menemani aku menunggu hujan reda.
“Da, awak pulang dulu
ya. Udah teduh ni.” Sambil mengengkol vespa saya dan melekatkan helem ke
kepala.
“Ya, Diak. Hati-hati.” Jawab Uda.
“Ya, Diak. Hati-hati.” Jawab Uda.
Sebelum pergi melaju
pulang. Saya melihat kearah Uda sejenak. Namun saya dapati Uda tadi tidak sendiri.
Uda Sabar ditemani oleh Gadis berbaju putih dengan rambut panjang di halte tua itu.
***