Sabtu, 11 April 2015

A Poem for My Mom

ULASAN RINDU UNTUK MAMA
Oleh Riedho Kurnia Pamungkas

Ma, sudah empat tahun sejak saat itu
langit masih terlihat biru dan
jiwaku selalu rindu padamu
Ma, aku ingin terlelap di pangkuanmu
seraya kau usap lembut dahiku, lalu
Kau bercerita tentang yang lalu dan
nasihatmu agar aku lebih baik darimu
Ma, sudah empat tahun dan aku
coba Ma. Aku abadikan rindu ini dalam puisiku
dan aku bermunajat dalam bait sajak ini
agar Dia yang kekal, senangkanmu di sana
Usah susahkan hatimu Ma
bujangmu ini jua kan song-song takdirnya
kelak aku kan temui sesuatu dari seorang wanita
seperti yang dirasakan Papa akan mu Ma

Ah Ma, sajak ini harus ku akhiri, namun
tidak dengan rinduku. Seperti kasihmu
biarkan rindu ini menghalimbubu  hingga
kaki kita sama-sama berdiri di atas permadani surga

Jumat, 18 Juli 2014

Mengapa

Sampai saat ini, detik ini, manis cerita itu masih saja menggenangi pikiranku. Saat-saat bahagiaku bersamamu. Pertama kali kau menyapaku, pertama kali senyum itu, tawa itu. Tak pernah sejengkal pun sisi kenangan itu ku lupa.

Kau orang asing. Tak berapa lama aku tahu denganmu. Tapi kau berhasil menjajah hatiku, menguasainya dengan manis, sempurna. Membuatku merasa begitu spesial. Dan kau tahu itu, aku selalu senang menjadi yang spesial bukan?


Aku selalu ingat, kala pertama aku menatap dalam-dalam matamu. Aku menemukan cinta di sana. Lalu kau bilang "Jangan tatap aku terlalu lama, kau akan terperangkap". Kau benar. Aku terperangkap. Aku sendiri yang menginginkan perangkap itu. Sejak saat itu, hingga hari ini. Tak pernah berubah. Mata itu telah menancapkan cinta yang dalam di dasar hatiku.


Aku ingat saat indah itu. Saat aku kecup pipimu. Cium keningmu dengan penuh cinta. Juga saat lembut bibirmu beri aku kehangatan yang tak pernah bisa ku lupa. Oh dear, i miss you.


Kau pasti tak pernah lupa saat ini. Aku tahu kau sangat menyukainya. Sewaktu aku menciumi mesra tanganmu. Penuh kehangatan dan aku tulus tanpa modus. Suer! Kau juga ingat tetntunya kala kau peluk aku. Saat bahagia, atau bahkan saat di motor. Hujan lebat, petir sambar-menyambar, kau takut sekali. Kau peluk aku erat. Aku tersenyum senang, bahagia sekali. Kau tidak berhenti malah makin erat.


Semuanya, termasuk sunset itu. Sunset yang sempurna. Sunset yang mengawali cerita kita. Yang akhirnya juga terkubur bersama senja. Aku susah lupa sayang, aku susah. Mungkin tak akan pernah. Waktu terus maju dan aku tetap tertinggal jauh dibelakang.


Kini, hampir setiap saat aku mencoba mengabaikannya. Mulai melupakan jengkal demi jengkal serpihan kisah kita. Kau kira berhasil? Kau salah. Sejengkal demi sejengkal ku coba, sejengkal bahkan dua jengkal atau tiga kenangan itu kembali menghujam hatiku.


Sayang, mengapa keadaan begitu kejam atau kita yang bodoh. Mengapa waktu tega mencabut panah cinta yang telah begitu dalam tertancap dihatiku. Waktu melaju tanpa menoleh pada hatiku lagi. Tak dihiraukannya luka yang berceceran, lubang yang dibuatnya akibat panah itu.


Mengapa sayang? Mengapa hati ini masih merindukanmu?


Kesenangan ini terlalu cepat berlalu bagiku. Kepedihan ini tidak cocok untukku. Mengapa semua ini terjadi? Tak berhakkah aku? Segala pertanyaan itu sayang, yang selalu ku hadapi setiap hari sejak saat itu. 


Saat dimana kau memulai untuk tak hiraukan aku lagi. Saat dimana kau mencoba melangkah menemani waktu dan membiarkanku tertinggal bersama kenangan. Apa yang terjadi? Haruskah aku menyesali waktu? 


Mengapa tak kau maklumi sayang. Segala kebodohanku. Kau tahu betapa berartinya kau untukku. Lalu mengapa kau tinggalkan aku begitu saja. Dan berlagak tegar di depan orang-orang, meninggalkan aku sebagai pecundang sendiri. 


Sayang, aku masih bertanya, mengapa?

Sabtu, 15 Maret 2014

Desau Angin Langkisau



seperti langit biru yang berpadu laut biru
jelas garis batasnya
saling bercumbu, mencipta suasana

desau angin di puncak langkisau
semilirnya belai lembut 
buatku hanyut, dalam rindu

aroma elok khas mu
masih melekat keras dibenakku

ingat,
saat mata kita bertaut
kala sang surya beringsut surut
kata itu terucap
janji suci yang selalu kita dekap

Jumat, 14 Februari 2014

Barangkali-Barangkali

belakangan, setiap pagi
embun ini tak lagi kau sapabarangkali
embun ini tak sesejuk dulu belakangan, setiap siang
suara-suara rindu tak terdengar
barangkali
suara-suara itu tak lagi getar belakangan, setiap malam
khayal tak lagi mimpibarangkalialam telah terbunuh sepi

15 Februari 2014

Andai Ku Mampu

andai ku mampu,
ku curi sayap malaikat,
barang sejenak,

ku kan terbang ke sana,
ku kunjungi Mama di sana,
barang sejenak,

andai ku mampu,
ku kan berbaring dipangkuannya,
barang sedetik,

andai ku mampu,
barang sekejap,
aku ingin berjumpa.

22 Desember 2013

Awan-Awan Hitam

awan-awan hitam
menyingkirlah dari biru langitku
jangan nodai dengan mu yang kelam

namun, ku izinkan kau sejenak
tapi kau harus lekas tersentak

aku hanya ingin pelangimu
setelah manis hujanmu
bertengger indah di langit ku yang biru

20 Desember 2013

Cinta Tak Terungkap

inilah cinta tak terungkap
yang terpendam dan tak pernah lengkap
kisahnya tak pernah terangkat
bahkan ke atas untuk sekedar menguap

inilah cinta hamba yang gelap
debu tebal erat mendekap
tak kan ada cahaya menyemburat
yang ada hanya harap

inilah api cinta yang terkalahkan asap
tak tampak, sekedar lalu lesap
cahayanya hanya indah sesaat
tinggalkan cinta yang menanggung ratap

19 Desember 2013