Sabtu, 24 Agustus 2013

Baliho

Harian Singgalang Minggu, 25 Agustus 2013

Sebetulnya hal sperti ini sudah lumrah terjadi di negaraku. Sekali lima tahun kami pasti mengadakan pemilu untuk memilih anggota legislatif dan eksekutif.
Meski sudah banyak fakta membuktikan bahwa caleg-caleg yang gagal banyak yang berujung rumah sakit jiwa karena kehabisan harta. Namun, penggemar profesi ini tetap saja meningkat.
Untuk menuju pemilu biasanya ada masa kampanye. Baliho, poster-poster, stiker dan segala macam bertebaran ditempel dimana-mana.
Pemilu di negaraku ini sebenarnya masih sekitar satu tahun lagi tapi kampanye sudah dimulai jauh- jauh hari. Baliho sebesar iklan rokok bahkan lebih terpampang nyata di jalanan. Pohon-pohon rindang juga tak luput dari poster-poster caleg untuk digerogoti batangnya. Stiker-stiker disebar dimana-mana. Bahkan di kaca kamar mandiku juga tertempel stiker seorang wanita muda dari partai yang katanya mewakili generasi muda, tersenyum seakan mentertawaiku yang sedang sabunan di kamar mandi. Entah siapa yang menempel, aku tak tahu.
Juga ada yang membuat kalender. Kalender ini juga ada dirumahku. Tanggal-tanggal pada kalendernya dibuat kecil. Mungkin hanya seperlima saja dari halaman kalender. Sedangkan foto beliau dengan kumis meramang memenuhi halaman kalender itu. Terpajang tepat  di ruang tamuku. Berlatarkan warna mencolok. Sehingga lebih menarik perhatian dibandingkan foto closeup-ku ala cover boy majalah-majalah.
Aku sebenarnya tidak peduli siapa yang mau duduk menjadi legislatif, eksekutif, yudikatif dan tif-tif lainnya. Toh, kehidupanku akan tetap seperti ini juga. Namun sebagai warga negara yang baik dan insyaallah masuk syurga, aku harus menunaikan kewajiban untuk memilih walaupun hak ku sering terabaikan. Aku memutuskan akan mencoblos salah satu dari beliau-beliau yang telah rela berkorban segala-gala demi masa depannya yang tentu cerah setelah duduk nanti.
***
Aku memang bukan seorang pegawai yang bergaji atau lebih tepatnya belum. Aku seorang pendatang baru didunia perpengangguran. Bisa dibilang masih kelas bulu dalam dunia tinju WBA.
Aku baru lulus kuliah dari universitas negeri di kotaku setahun yang lalu dengan IPK yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Lebih tepatnya pas-pasan.
Memang sudah nasibku mungkin menjadi orang pas-pasan. IPK pas-pasan, ekonomi keluarga pas-pasan, tampang pun pas-pasan, akibatnya aku masih jomlo dari lahir sampai sekarang. Nasib-nasib.
Hari ini aku berencana akan pergi interview di salah satu perusahaan swasta. Beberapa hari yang lalu aku mendapatkan e-mail bahwa aku lolos seleksi dan akan diwawancara pagi ini. Ini entah sudah perusahaan ke berapa yang aku kirimi lamaran pekerjaan. Tapi syukurlah aku dapat panggilan.
Zaman sekarang mencari pekerjaan memang susah. Bagiku yang berlabel Amd atau sarjana muda teknik mesin juga susah. Padahal untuk lulus dari jurusan ini sangat susah. Setelah lulus, aku juga dihadapi dengan kesusahan lainnya. Aku harus bersaing dari ratusanribu sarjana muda teknik mesin dari seluruh penjuru negaraku karena memang bukan kampusku saja yang mencetak sarjana muda teknik mesin ini. Beruntunglah aku, hari ini aku mendapat panggilan oleh perusahaan.
Aku selalu bangun pagi, hari ini pun begitu. Aku dengan senyum sumringah karena baru saja mimpi basah, langsung menuju kamar mandi. Aku menggosok gigi, sambil sesekali memandangi wajah wanita yang berada pada stiker yang tertempel di kaca kamar mandiku. Rambutnya tergerai panjang, bibirnya merah, wajahnya putih mulus, cantik juga. Membuat aku berfantasi. Ah, ada-ada saja.
Selesai mandi aku langsung menuju kamar untuk memakai pakaian yang rapi karena akan interview. Aku lihat jam dinding yang juga ada gambar caleg dari Partai Ungu. Sudah jam 07.00 WIB. Wah bisa telat nih. Gara-gara kelamaan di kamar mandi jadi gini deh.
Aku harus bergegas satu jam lagi interviewnya akan dimulai. Tanpa sisiran dan tanpa pakai deodoran aku langsung memakai sepatu tapi aku tidak lupa minum susu.
Aku juga tidak lupa pamit dengan Papa-Mama walau hanya dengan sorakan dari luar. Aku juga tidak lupa minta restu kepada bapak caleg yang ada di ruang tamu. Aku menatap sekilas kumis meramang bapak yang ada pada kalender itu, penuh harap.
Tanpa manasin motor lebih dulu, aku langsung menggeber motorku menuju jalan raya.
***
Jalanan masih cukup lengang dan aku masih punya waktu sekitar 45 menit lagi. Sambil bersiul-siul di jalanan, aku melihat-lihat pemandangan di sekitar. Tidak ada yang spesial dan indah. Hanya poster-poster dan baliho-baliho yang setia tersenyum menatapku. Entah mereka mengejek motorku yang butut atau mereka mencimees. Entahlah ku rasa sama saja.
Kuperhatikan gambar-gambar mereka satu-persatu. Ternyata lucu juga. Ada yang ekspresi terkejut, senyum terpaksa, senyum cimees, sok seksi, dan banyak lagi.
Baru ku sadari pula ternyata dari pohon dekat rumahku sampai dijalan ini ditempeli oleh poster yang sama, oleh satu orang saja. Dengan rambut putih dan senyuman khas bahagia tampaknya.
Mungkin itu strategi politik. Bagus juga idenya. Dari pada memasang satu baliho sebesar iklan rokok, lebih baik memasang poster kecil di pohon-pohon juga semak-semak tetapi banyak.
***
Sepuluh menit berlalu, aku sampai di perempatan jalan. Aku hendak mengambil jalan lurus. Di salah satu sudut jalan, terpampang baliho besar. Itu baliho wanita yang ada pada stiker yang mejeng di kamar mandiku. Kali ini tampak jelas semuanya. Memang cantik dan seksi.
Lampu hijau dan aku melaju kembali. Gara-gara baliho tadi aku jadi berfantasi lagi tentang wanita itu. Andai saja dia itu pacarku. Pasti sangat menyenangkan. Apa lagi kalau lagi berduaan.
Lamunanku buyar, setelah di ujung pertigaan jalan aku dihadang baliho bapak dengan kumis meramang. Aku terperanjat, kaget. Tanpa sadar aku menabrak sepeda motor yang berada di depanku.
Aku perhatikan baik-baik, pakaiannya. Sepatu boot khas, celana warna coklat dan rompi hijau menyala. Tanpa berpikir panjang kali lebar sama dengan luas, otakku menterjemahkan itu polisi lalu lintas.
Wah, gawat. Polisi itu memandangiku garang. Aku ketakutan, lalu menggeber motor menembus lampu merah juga menempuh jalan perboden.
Pikiranku kalut. Aku salib kiri-kanan dan sewaktu aku menoleh ke belakang untuk melihat Pak Polisi, motorku yang melaju kencang menabrak pohon beringin yang ada di sisi kanan jalan.
Aku terkangkang terhimpit sepeda motorku. Penglihatanku terasa gelap. Nanar ku tatap sebuah poster di pohon itu bergambarkan bapak caleg yang selalu ada di pohon-pohon sepanjang jalan. Wajahnya masih saja tersenyum sumringah melihatku menderita. Padahal tidak habis mimpi basah.
****

2 komentar: