Akibat
Oleh Riedho Kurnia Pamungkas
Oleh Riedho Kurnia Pamungkas
Matahari
telah berganti dengan bulan. Ini saatnya aku keluar dari sarang untuk mencari
pelanggan. ”Semoga malam ini dapat satu”. Aku langsung kebut motor ke kafe
tempat biasa nongkrong.
Aku
periksa kembali stelanku setibanya di depan kafe. ”sudah rapi. Lets rock n`
roll”. Tak lama aku duduk di dalam kafe, hapeku pun berdering. ”Vera? Oh, tante
Vera yang minggu kemarin”.
”Halo,
Tante! Apa kabar? Ada apa nih, tumben nelpon?”
”Baik Fer. Ini, kamu bisa ke rumah tante nggak malam ini? Rumah tante lagi sepi. Suami Tante lagi pergi ke luar kota. Tante takut tinggal sendiri. Kamu mau kan?”
”Hmm, gimana ya Tan? Oke deh. Nanti, sekitar jam sepuluhan aku meluncur ke rumah tante.”
”Benar ya? Tante tunggu ya. Awas kalau bohong!”
”Hehe tenang Tante! Ferdi tak pernah ingkar janji.”
”Baik Fer. Ini, kamu bisa ke rumah tante nggak malam ini? Rumah tante lagi sepi. Suami Tante lagi pergi ke luar kota. Tante takut tinggal sendiri. Kamu mau kan?”
”Hmm, gimana ya Tan? Oke deh. Nanti, sekitar jam sepuluhan aku meluncur ke rumah tante.”
”Benar ya? Tante tunggu ya. Awas kalau bohong!”
”Hehe tenang Tante! Ferdi tak pernah ingkar janji.”
”rejeki
masa ditolak. Ya nggak?”. Jam menunjukkan pukul sembilan lewat seperempat. Aku
sudah mulai bosan duduk di kafe ini. Lalu aku memutuskan untuk pergi lebih awal
dari jadwal ke rumah Tante vera.
”Tok tok tok”
”Ayo, ayo masuk sapa Tante.”
”Ayo, ayo masuk sapa Tante.”
Aku
sempat terpana, ketika melihat tante malam ini. Aku takjub. Tante mengenakan
gaun tidur merah jambu dengan bahan tipis. Saking tipisnya nampak olehku apa
yang ada di balik gaun itu. Membayang-bayang bra tante yang berwarna hitam dari
dalamnya.Terlihat ketat membungkus bulat padat dada tante. Tak terasa celanaku
menjadi sempit seketika itu jua. Berbeda dengan pelangganku biasanya, Tante
Vera memang sangat cantik, tidak gemuk seperti tante-tante pada umumnya dan
terasa spesial sekali. Apa lagi malam ini, dia begitu seksi.
”Silahkan
duduk Fer! Tante mau bikin kopi dulu. Dingin-dingin ginikan enaknya ngopi.”
”Benar Tante. Jangan lama-lama ya!”
”Hehe, kamu ini nggak sabaran ya.”
”Benar Tante. Jangan lama-lama ya!”
”Hehe, kamu ini nggak sabaran ya.”
Belum
jadi aku meneguk kopi yang dibuatkan Tante, aku sudah digoda oleh Tante yang
menempel denganku. Dia bergolek di atas pahaku menghadap ke atas memandangiku. Aku
pun memandangnya. Perlahan pandanganku berangsur-angsur menjalar. Mataku tak
terkontrol lagi, nampak olehku buah dada tante yang montok. Libidoku pun
meningkat. Tanganku mulai tak terkontrol lagi. Kujelajahi dada tante yang bulat
dan besar itu dengan tanganku. Putih mulus, sayang putingnya sudah hitam.
Faktor umur mungkin.Tante mendesah nikmat. Tak tahan lagi langsung kusetubuhi
tante. Kami bagai mengangkasa. Serasa telah berada di dunia lain, dunia kami
berdua.
”Terima
kasih ya Fer! Tante puas. Suami Tante yang sudah tua renta itu tak akan bisa
sebaik ini.”
”Haha, Iya Tante aku juga.”
”Ini Fer, untuk kamu!” Tante menaruh uang satu gepok di atas meja.
”Tidak usah Tan! Untuk Tante gratis. Kapanpun Tante mau, aku siap untuk Tante.”
”Haha, Iya Tante aku juga.”
”Ini Fer, untuk kamu!” Tante menaruh uang satu gepok di atas meja.
”Tidak usah Tan! Untuk Tante gratis. Kapanpun Tante mau, aku siap untuk Tante.”
Sejak
itu, Tante sering memanggilku. Dengan senang hati aku melayani Tante secara
gratis. Sungguh nikmat bercinta dengan Tante Vera. Walau begitu aku tetap
melayani wanita-wanita lain yang membutuhkan servisku. Aku dikenal laris oleh
teman-temanku. Para wanita menyukai karena aku tak pernah pakai pengaman saat
berhubungan dengan mereka.
”Aw,
pedih sekali. Ada apa ini?” Aku kebingungan, mengapa terasa pedih kelaminku
saat buang air kecil. Aku tidak mau berpikir kearah yang bukan-bukan. ”Malam
ini Tante Vera membutuhkan aku. Aku harus ke sana.” Saat aku berhubungan dengan
Tante Vera, pedih dan nyeri dibagian kemaluanku terasa kembali.
”Ada
apa Fer?”
”Ini Tan, entah kenapa terasa nyeri dan pedih sekali.”
”Haa? Kamu sudah periksakan ke dokter kelamin Fer? Jangan-jangan kamu... Aduh bagaimana ini dengan saya? Sial...! Apa kamu tidak memakai pengaman juga saat bermain dengan wanita-wanita lain?
”Ng..nggak Tan. Aku juga takut Tan. Bagaimana ini?
”Aduh bagaimana ini? Bagaimana dengan suamiku? Dia pasti marah besar. Aduh, aduh.”
”Ini Tan, entah kenapa terasa nyeri dan pedih sekali.”
”Haa? Kamu sudah periksakan ke dokter kelamin Fer? Jangan-jangan kamu... Aduh bagaimana ini dengan saya? Sial...! Apa kamu tidak memakai pengaman juga saat bermain dengan wanita-wanita lain?
”Ng..nggak Tan. Aku juga takut Tan. Bagaimana ini?
”Aduh bagaimana ini? Bagaimana dengan suamiku? Dia pasti marah besar. Aduh, aduh.”
Aku
memerikasakan kelaminku yang sakit ini. Dia mulai mengeluarkan nanah yang busuk
sekali. Belakangan aku pun sering terserang diare. Hasil pemeriksaan menjelaskan
bahwa aku terkena HIV. Bukan itu saja, aku juga terkena bakteri yang
menyebabkan aku juga terkena penyakit Sifilis. Ini seperti penyakit komplikasi
tetapi bukan penyakit komplikasi seperti orang-orang pada umumnya. Ini penyakit
kelamin komplikasi. Dokter bilang aku sudah tak tertolong lagi. Tak ada obat
dari penyakitku ini.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar